Rabu, 29 Oktober 2014

Jomblo ????? Kennaapa ?

Selamat pukul 21.30 bagi yang menjalankannya. semoga kita tetap berada dalam keenjoyan dengan teman kita si"JOMBLO" ini.

kawan-kawan jomblo yang dirahmati Allah
saya ucapkan selamat buat kalian yang menjomblo sampai saat ini dan hingga saatnya nanti dimana kita mengikat janji suci dengan pasangan kita.
mengapa ?
bro....sis...gan...teh..akang....mas..mba..kak...de....jomblo itu asik bro... kita punya keuntungan yang tidak pernah didapetin sama orang yang punya pacar...
mau tau?

beberapa keuntungan yang didapetin jomblo :
  1. kita bebas bergaul ama cewe mana pun..ga ada yang larang (asal jangan bergaul bebas aja)
  2. ga ada yang cemburuin kita kalau kita punya sahabat cewe
  3. kita masih disegel bro...ga ada yang nyentuh hati kita kecuali kekasih abadi...haha
  4. ini menjamin kita bakal dapetin pasangan yang bersih juga, yang ngejaga hatinya dari lelaki atau cewe lain...bayangin kalau nanti kita dapat pasangan yang pernah memberikan hatinya kepada lelaki atau perempuan lain........pengen ga punya pasangan yang hanya menyerahkan jiwa dan raganya kepada kita saja dan ga pernah memberikan hatinya kepada orang lain selain kita ?..pengen dong ? ... makanya jangan pacaran...
  5. kita bakal jadi orang cerdas broo.......ada pepatah mengatakan. ilmu itu cahaya dan cahaya allah itu tidak akan diberikan kepada orang yang maksiat...setidaknya dengan menjomblo, kita berusaha untuk menjauhi maksiat
  6. dapat rahmat dari Allah...bagaimana tidak ? orang yang menjomblo itu setidaknya sudah mengamalkan perintah Allah : "walaa taqrabuu zinaa"..firman Allah : "jangan kau dekati zina".....barang siapa yang taat kepada Allah maka dia akan disayangi Allah...dengan jomblo, kita telah mencoba mentaati satu perintah Allah dan kita akan dicintai-Nya............
wahai jomblo yang dicintai Allah..... jagalah diri kalian... tetaplah dalam pendirian dan camkan "JOMBLO ITU PRINSIP BUKAN NASIB".

tapi jangan lupa untuk menentukan pasangan hidup ya karena itu sunat nabi kita dan perintah Allah juga untuk menikah....islam telah memberikan jalan untuk menemukan jodoh selain dengan pacaran....ya, dengan ta'aruf....
rubahlah konsep suka kita.......jangan sampai kita memiliki konsep suka yang menimbulkan nafsu dan berbuah cinta durjana tetapi suka yang menimbulkan penasaran dan membuahkan ikatan kekeluargaan diantara dua pihak yang diikat atas dasar cinta karena Allah.

wahai jomblo yang dicintai Allah....semoga kita tetap berada dalam barisan orang yang melihat Allah Swt memenuhi janji rahmat-Nya, bukan melihat janji Adzab-Nya

Kamis, 23 Oktober 2014

NUZUL AL-QURAN



NUZUL AL-QUR’AN
A.    Pengertian Nuzulul Quran
Nuzul berasal dari kata نَزَلَ yang berarti telah turun, adapun نُزُوْلاً adalah masdar dari kata nazala yang artinya turun atau perturunan, maka bisa diartikan bahwa nuzulul quran artinya adalah turunnya Al-Quran. Nuzulul Quran adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting penurunan wahyu Allah kepada nabi dan rasul terakhir agama Islam yakni nabi Muhammad SAW.  peristiwa ini merujuk kepada telah turunnya risalah baru yang memberi rahmat bagi seluruh alam yaitu Qur’an.
Al-Quran diturunkan dalam dua cara, Turunnya Al-Qur’an yang pertama kali pada malam lailatul qadar merupakan pemberithauan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat bahwa  umat Muhammad adalah umat yang paling mulia dengan diturunkannya risalah baru ini. Sedangkan Al-Quran diturunkan kedua kalinya secara bertahap untuk meneguhkan dan memantapkan hati rasul serta mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian sampai Allah sempurnakan dan mencukupkan agama ini untuk umat nabi Muhammad.
Jadi Al-Quran diturunkan dalam dua tahap, tahap pertama Quran diturunkan langsung dalam artian secara keseluruhan secara utuh Al-Quran diturunkan ke langit dunia. Dan pada tahapan kedua Al-Quran diturunkan berangsur-angsur dalam artian turunnya al-quran dari langit dunia kepada nabi yang dibawa oleh Jibril ayat demi ayat atau surat demi surat sesuai dengan situasi yang terjadi pada nabi dan berbagai peristiwa dan kejadian yang terjadi agar rasul mantap dalam menyampaikan risalah dari Tuhan semesta alam.
B.     Prosedur Penurunan Wahyu kepada Nabi Muhammad
1.      Turunnya Al-Quran Secara Langsung dan Berangsur-angsur
Al-Quran diturunkan dalam tiga tahap, dalam tiga tahap tersebut Al-Quran diturunkan langsung secara keseluruhan pada tahap pertama dan kedua, sedangkan pada tahap ketiga Al-Quran diturunkan secara berangsur-ngsur. Adapun tiga tahapan itu adalah :

·         Tahap Pertama,  yaitu saat Allah menyimpan Quran di Lauh al-Mauhfudz, Firman Allah :
بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ مَجِيْدٌ. فِيْ لَوْحٍ مَحْفُظٍ
“Bahkan ia adalah Quran yang mulia, yang tersimpan di Lauh Al-Mahfudz.” (Al-Buruj : 21-22)
·         Tahap Kedua, yaitu saat Allah menurunkan Al-Quran dari lauh al-mahfudz ke baitul izzah di langit dunia.
Pada tahap pertama dan kedua Quran diturunkan sekaligus. Al-Quran diturunkan sekaligus dari lauh al-mahfudz ke bait al-izzah di langit dunia pada bulan Ramadhan tepatnya pada Lailatul Qadr. Allah berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاَنَ هُدًا لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاةٍ مِنَ الْهُدًا وَّالْفُرْقَان
 “Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara haq dan yang bathil.” (Al-Baqarah 185).
Allah juga berfirman,
إنَّا اَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“ Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Quran pada lailatul qadr.” (Al-Qadr : 1).
Banyak nas nas yang senada dengan pendapat diatas bahwa Al-Quran diturunkan sekaligus dari lauh mahfudz ke baitul izzah pada lailatul qadr. Ibnu ‘Abbas berkata : “Quran dipisahkan dari Az-Zikr lalu diletakan di baitul Izzah di langit dunia. Maka jibril mulai menurunkannya kepada Nabi Muhammad Saw.” Dan pendapat ini yang dipegang oleh kebanyakan para ulama.
Namun Amir bin Syarahil berpendapat bahwa dalil dalil diatas menunjukan kepada diturunkannya Quran pertama kali kepada rasulullah, yaitu pada malam yang diberkahi di bulan Ramadhan. Kemudiaan turunnya Quran ini berlanjut secara bertahap sesuai dengan kejadian dan peristiwa yang terjadi.

·         Tahap Ketiga, dimana qur’an dibawa oleh Jibril dan disampaikan kepada nabi Saw atas perintah Allah secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian dan peristiwa yang terjadi pada saat itu. Allah berfirman,
وَ إنَّهُ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْأَمِيْنُ . عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ . بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِيْنٍ
 “ Dan Quran ini benar benar diturunkan oleh tuhan semesta alam ; dia dibawa turun oleh ruhul amin (Jibril) kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang dari orang- orang yang memberi peringatan; dengan bahasa arab yang jelas.”(Asy-Syuaro : 192-195).

2.      Cara wahyu Allah turun kepada Malaikat
a.       Allah menurunkan wahyu kepada para malaikat tanpa perantara dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu. Pendapat ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam Surat Al-Anfal ayat 12,
إِذْ يُوحِى رَبُّكَ إِلَى الْمَلَئِكَةِ إِنِّى مَعَكُمْ فَثَبِّتُوْا الَّذِيْنَ آمَنُوا
“ Ingatlah ketika tuhanmu mewahyukan kepada Malaikat : ‘sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman.”
Sebuah hadits dari Nawas bin Sam’an ra. Mengatakan : Rasulullah Swa Bersabda : “Apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai sesuatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu ;maka langitpun tergetarlah dengan getaran – atau dia mengatakan dengan goncangan – yang dahsyat karena takut kepada Allah Azza Wajalla. Apabila penghuni langit mendengar hal itu, maka pinsan dan jatuh bersujudlah mereka itu kepada Allah. Yang pertama sekali mengangkat muka diantara mereka itu adalah Jibril, maka Allah membicarakan wahyu itu kepada Jibril menurut apa yang dikehendaki-Nya. Kemudian Jibril berjalan melintasi para malaikat. Setiap kali dia melalui satu langit, maka bertanyalah kepada malaikat langit itu : ‘Apakah yang telah dikatakan oleh Tuhan kita wahai Jibril ?’ Jibril menjawab : ‘Dia mengatakan yang haq dan Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Para malaikat itu semuanya pun mengatakan seperti apa yang  dikatakan Jibril lalu Jibril menyampaikan wahyu itu seperti diperintahkan Allah Azza Wajalla.” (HR Tabrani)
Hadits ini menjelaskan  bagaimana wahyu turun. Pertama Allah berbicara, dan para malaikat mendengarkannya. Dan pengaruh wahyu itupun sangat dahsyat. Apabila pada lahirnya – didalam perjalanan jibril untuk menyampaikan wahyu – Hadits diatas menunjukan turunnya wahyu khusus mengenai Quran, akan tetapi Hadits tersebut juga menjelaskan cara turunnya wahyu secara umum.
b.      Al-Quran dituliskan di Lauh Al-Mahfudz, hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Buruj ayat 21-22:
بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ مَجِيْدٌ. فِيْ لَوْحٍ مَحْفُظٍ
 “Bahkan ia adalah Quran yang mulia, yang tersimpan di Lauh Al-Mahfudz.
Demikian pula bahwa Al-quran itu diturunkan sekaligus ke baitul Izzah yang berada di langit dunia pada malam lailatul qadar di bulan Ramadhan sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Qadar ayat 1, “sesungguhnya kami menurunkannya – Quran – pada malam Al-Qadar.” Juga pada firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 185, “Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Quran.”
Dikatakan dalam satu riwayat bahwa telah dipisahkan Qur’an dari Adz-Dzikr, lalu diletakan di baitul izzah di langit dunia; kemudian Jibril menurunkannya kepada Nabi Saw.
Oleh sebab itu ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Qur’an kepada Jibril dengan beberapa pendapat, diantaranya :
1)      Jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah dengan lafalnya yang khusus
2)      Jibril menghafalnya dari lauh mahfuz
3)      Bahwa maknanya disampaikan kepada Jibril sedangkan lafaznya berasal dari Jibril atau Nabi Muhammad Saw.
Adapun pendapat yang paling shahih adalah pendapat pertama yang juga dijadikan pegangan oleh kaum Ahlu as-Sunnah wa Al-Jamaah.
3.      Cara Wahyu Allah Turun Kepada Para Rasul
Allah menurunkan wahyu kepada para rasul dengan melalui perantara dan tanpa melalui perantara.


A.    Melalui Perantara
Allah menurunkan wahyu kepada rasul-Nya melalui perantara yakni malaikat Jibril, malaikat Jibril adalah yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para rasul, Jibril juga lah yang datang kepada nabi Musa, nabi Ibrahim, nabi Isa dan nabi-nabi yang lainnya.
B.     Tanpa Melalui Perantara
Allah menurunkan wahyu kepada rasul tanpa melalui perantara dengan beberapa cara :
1)      Mimpi yang benar dalam tidur
Hal ini merupakan persiapan bagi Rasulullah untuk menerima wahyu dalam keadaan sadar dan tidak tidur. Didalam Quran, wahyu diturunkan ketika beliau dalam keadaan sadar, terkecuali bagi orang yang mendakwakan bahwa surat Kutsar diturunkan melalui mimpi, karena adanya satu hadits dalam shahih Muslim dari Anas ra. mengenai hal itu. Mimpi yang benar itu tidaklah khusus bagi para rasul saja, melainkan tetap ada pada kaum Mukminin sekalipun mimpi itu bukanlah wahyu, seperti disabdakan oleh Rasulullah Saw. “Wahyu telah terputus, tetapi berita-berita gembira tetap ada, yaitu mimpi orang mukmin.”
2)      Allah berfirman dalam kalam-Nya dibalik tabir sebagaimana berfirmannya Allah secara langsung kepada Musa as. Hal ini pun terjadi kepada Nabi Muhammad Saw pada malam Isra dan Miraj disaat nabi berada di sidratul muntaha menerima perintah salat langsung dari Allah Swt.

4.      Cara Penyampaian Wahyu oleh Malaikat Kepada Rasul
Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada rasul, diantaranya :
a.       Datang kepada rasul suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat.
Apabila wahyu turun dengan cara ini, maka rasul mengumpulkan segala kekuatan dan kesadaran untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Dengan demikian maka cara ini adalah cara yang paling berat bagi Rasul. Dan suara itu mungkin seperti suara kepakan sayap para malaikat, sesuai dengan hadits, “apabila Allah menghendaki suatu urusan di langit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan gemercingnya mata rantai diatas batu-batu yang licin.” (HR. Bukhari)
b.      Malaikat datang menyampaikan wahyu kepada rasul dengan menjelma menjadi seorang laki-laki.
Cara ini adalah cara yang lebih ringan bagi rasul dari pada cara sebelumnya. Jibril menjelma menjadi seorang laki-laki untuk menyenangkan Rasulullah sebagai manusia.
Pada cara penyampaian wahyu yang pertama – seperti gemerincing lonceng – nabi dituntut untuk menyesuaikan rohaninya dengan ketinggian rohani malaikat sehingga hal ini memberatkan kepada nabi. Adapun cara yang kedua dengan menjelmanya jibril menjadi seorang laki – laki maka rasul tidak mengalami keberatan karena tingkat rohani nabi dan jibril pada saat itu menjadi seimbang. Ibnu Khaldun berkata : “dalam keadaan yang pertama, Rasulullah melepaskan qadratnya sebagai manusia yang bersifat jasmani untuk berhubungn dengan malaikat yang sifatnya rohani. Sedang dalamkeadaan lain sebaliknya, malaikat berubah dari yang sifatnya rohani menjadi manusia yang sifatnya jasmani”.

Kedua cara penyampaian diatas sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a., Bahwa Haris bin Hisyam r.a. bertanya kepada rasul Saw. mengnai hal itu dan nabi menjawab, “ Kadang kadang ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku, lalu ia pergi dan aku telah menyadari apa yang dikatakannya. Dan terkadang malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku dan akupun memahami apa yang dia katakana.”
Kedua cara diatas pun sesuai dengan firman Allah dalam surat Asy-Syura ayat 51 :
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْيَا اَوْ مِنْ وَرآءِى حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رُسُوْلاًفَيُوْحِىَ بِاِذْنِهِ مَا يَشَآءُ . اِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ
 “dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan : perantara wahyu atau dari balik tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi dan Mahabijaksana.” 

C.  Alasan Dan Hikmah Diturunkannya Al-Quran Secara Berangsur-Angsur
Setelah nuzul nya Al-Quran secara menyeluruh atau dalam aspek kebahasaan disebut inzal, maka Al-quran pun diturunkan secara bertahap yang dalam aspek kebahasaan disebut tanzil. Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur dari pertama diturunkanya pada lailatul qadr di bulan ramadhan sampai wahyu yang terakhir diturunkan sehingga sempurnalah penurunan Qur’an.
Al-Quran berbeda dengan kitab-kitab samawi sebelumnya, kitab Injil, Taurat dan Zabur diturunkan secara lengkap dan tidak berangsur-angsur sementara Quran diturunkan berangsur-angsur kurang lebih selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari.
Dibawah ini akan dijelaskan mengapa Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur dan apa hikmah dibalik diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.
1.      Meneguhkan atau menguatkan hati Nabi Muhammad.
Nabi Muhammad diutus ditengah tengah manusia yang keras, membangkang dank eras kepala tetapi nabi dengan tulus terus mengajak mereka kepada kebenaran. Wahyu turun dari waktu ke waktu sehingga dapat meneguhkan hatinya dalam kebenaran. Ketika rasul didustakan dan dianiaya oleh kaumnya, maka Allah menurunkan kisah kisah para nabi dan rasul sebelumnya bahwa mereka pun sama seperti nabi, namun dengan kesabaran maka pertolongan Allah pun akan datang. Maka nabi termotivasi oleh wahyu wahyu tersebut dan mengukuhkan kembali hatinya untuk berdakwah.
2.      Mempermudah Hafalan dan Pemahaman
Al-Quran diturunkan ditengah-tengah umat yang tidak bisa membaca dan menulis serta tidak mempunyai pengetahuan untuk menulis (Ummi). Catatan bagi mereka adalah hafalan. Jauhnya mereka dari hiruk pikuk kota pada saat itu membuat mereka mempunyai kejernihan fikiran sehingga daya hafal pun sangat kuat.
Oleh karena itu Allah yang Mahabijaksana mengetahui metode apa yang baik agar Al-Quran sampai dan difahami oleh bangsa yang ummi. Allah menurunkan Al-Quran secara berangsur-angsur adalah sebagai metode terbaik bagi bangsa yang ummi sehingga mereka dapat menghafal dan memahami ayat demi ayat sehingga Al-Quran akan terkumpul dan teramalkan secara sempurna sebagai agama yang sempurna dan diridhoi Allah.
Setiap turun ayat, maka para sahabt langsung menghafal, memikirkan, mempelajari hukumnya dan mengamalkan isinya. Maka yang demikian ini menjadi sebuah metode pembelajaran dalam kehidupan para tabi’in bahkan mahasiswa pada zaman ini dengan sistim kredit semesternya.
3.         Sebagai Tantangan dan Mukjizat
Nabi dihadapkan kepada kaum Quraisy yang sombong, angkuh dan senantiasa berada dalam kesesatan. Selama berdakwah, nabi sering dihadapkan pada suatu pertanyaan yang sia-sia, maka Allah menurunkan wahyu kepada nabi sebagai jawaban kepada orang kafir dengan jawaban yang lebih baik maknanya.
Maka dalam menjawab segala pertanyaan dari kaumnya yang menantang dan ingin melemahkan nabi, Nabi Muhammad menjawab sesuai dengan apa yang diwahyukan oleh Allah.
Disaat mereka keheranan terhadap turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur padahal kitab-kitab sebelumnya diturunkan sekaligus, maka Allah menjelaskan kepada mereka tentang hal itu. Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur sedang mereka tidak sanggup membuat hal yang serupa dengan Al-Quran. Hal ini dapat lebih menunjukan kemukjizatan Al-Quran dari pada diturunkannya Al-Quran sekaligus.
4.         Kesesuaian Dengan Peristiwa-Peristiwa Dan Pentahapan Dalam Penetapan Hukum
Bangsa arab khususnya kaum Quraisy tidak akan tunduk kepada Al-Quran jika Al-Quran tidak menghadapi mereka dengan bijaksana. Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa yang terjadi agar lebih dapat difahami. Ketika ada peristiwa mengenai suatu masalah, maka Allah akan menurunkan Quran kepada nabi sebagai jawaban atau hukum tentang peristiwa tersebut. Termasuk keadaan social bangsa arab pada waktu pertama kali Rasul diutus, maka Allah menurunkan ayat  tentang dasar – dasar keimanan disertai bukti-bukti dan alasan yang logis sehingga lambat laun keimana tertanam didalam hati mereka.
Ayat demi ayat pun turun sesuai dengan peristiwa yang terjadi dengan kaum muslim berkaitan dengan perjuangannya menegakan Islam sehingga Al-Quran menjadi dasar landasan mereka dalam menegakan agama Allah ini.
Al-Quran diturunkan secara bertahap juga sebagai pentahapan dalam menetapkan hukum. Surat ar-rum ayat 38-39  menjelaskan disyariatkannya salat prinsip umum mengenai zakat  yang diperbandingkan dengan riba.
Lalu Surat al-an’am ayat 51-52 menjelaskan tentang pokok-pokok keimanan dan dalil tauhid, menghancurkan kemusyrikan, menerangkan makanan yang halal dan yang haram juga untuk memuliakan harta benda, darah dan kehormatan.
Jika Al-Quran tidak diturunkan secara berangsur-angsur, maka tidak akan ada ilmu Nasikh mansukh. Dan para ulama akan kebingungan dalam menetapkan hukum.
5.      Bukti Yang Pasti Bahwa Al-Quran Diturunkan Dari Sisi Yang Mahabijaksana Dan Maha Terpuji
Dengan cara berangsur-angsur, dari satu wahyu ke wahyu selanjutnya terdapat jeda yang dipakai oleh para sahabat untuk membaca, mengkaji dan memahami sehingga ayat yang satu dengan ayat yang lainnya dapat menimbulkan hukum hukum dan lain sebagainya. Juga akan ditemukan bahwa Al-Quran terangkai begitu padat, gaya yang khas dan tiap kalimatnya bagaikan mutiara yang indah yang tidak akan tertandingi oleh manusia.
Al-Quran memiliki keserasian antara satu ayat dengan yang lainnya. Seandainya Al-Quran adalah perkataan manusia ynang disampaikan dalam berbagai situasi, peristiwa dan kejadian, tentulah didalamnya terjadi ketidakserasian dan saling bertentangan satu dengan yang lainnya .
Maka benar firman Allah dalam surat Hud : 1,
الر. كِتَابٌ اُحْكِمَتْ ءآيَتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيْمٍ خَبِيْرٍ
“inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapih serta dijelaska secara terperinci yang diturunkan  dari sisi Allah yang Mahabijaksana dan Mahaagung.”

D. Periodisasi Turunnya Al-Quran
1.      Periodisasi turunnya Al-Quran berdasarkan kronologis waktu
Al-Quran diturunkan berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, yaitu mulai malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran nabi . Seiring   dengan terjadinya berbagai peristiwa termasuk peristiwa hijrahnya nabi dari Makah ke Madinah maka penurunan wahyu pun mengalami periodisasi menurut waktu kapan ayat Al-quran itu diturunkan. ayat yang diturunkan sebelum hijrah memiliki ciri-ciri tertentu begitu juga ayat yang diturunkan sesudah hijrah. Adapun periodisasi diturunkannya Al-Quran kepada Nabi Muhammad adalah sebagai berikut :
a.       Sebelum hijrah (Periode Makkah)
Periode ini dimulai sejak diturunkannya wahyu pertama di gua hira sampai peristiwa hijrah nabi, Surat yang diturunkan sebelum hijrah masyhur dengan sebutan surat makiyyah. Surat makiyyah adalah surat yang diturunkan sebelum hijrah walaupun bukan diturunkan di makkah.

‘Utsman bin said Ad-Darami mengeluarkan keterangan dengan sanad sampai kepada Yahya bin Salam,”Surat yang diturunkan di Makkah dan yang diturunkan di jalan menuju Madinah sebelum Nabi Muhammad Saw sampai ke Madinah maka termasuk Makki, adapun surat yang dturunkan kepada nabi setelah sampai di Madinah termasuk Madani”.

Surat yang turun pada periode ini berisi tentang ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah Swt, penetapan risalah kenabian, penetapan hari kebangkitan dan pembalasan, uraian tentang kiamat dan perihalnya, neraka dan siksanya, surga dan kenikmatannya, ayat ayat kauniyah dan mendebat orang musyrik dengan dalil-dalil rasional.
Surat makiyyah juga memuat tentang fondasi-fondasi umum dalam pembentukan hukum syara dan keutamaan akhlak yang harus dimiliki oleh anggota masyarakat, celaan terhadap perbuatan orang-orang musyrik yang tercela seperti memakan harta anak yatim secara zalim dan sebagainya.
Biasanya surat yang diturunkan pada periode sebelum hijrah banyak mengandung kata-kata sumpah dan dan ayat atau suratnya pendek dengan nada perkataan yang agak keras.
Pada masa sebelum hijrah ini, Al-Quran turun dalam tiga periode menurut Noldeke :
1)      Periode makkah 1
Surat yang turun pada periode ini adalah :
Surat Al-‘Alaq [96], Surat Al-Mudatsir[74],Surat Al-Lahab [111], Surat Al-Kautsar [108], Surat Al-Humazah [104], Surat Al-Maun [107], Surat At-Takwir [102], Surat Al-Fil [105], Surat Al-Lail [92], Surat Al-Balad [90], Surat Al-Insyirah [94], Surat Ad-Duha [94], Surat Al-Qodar [97], Surat Ath-Thariq [86], Surat Asy-Syams [91], Surat Abasa [80], Surat Al-Qalam [68], Surat Al-A’la [87], Surat Ath-Thin [95], Surat Al-‘Ashr [103], Surat Al-Buruj [85], Surat Al-Muzammil [73], Surat Al-Qari’ah [101], Surat Al-Zalzalah [99], Surat Al-Infithor [82], Surat At-Takwir [81], Surat An-Najm [53], Surat Al-Insyiqaq [84], Surat Al-‘Adiyat [100], Surat An-Naziat [79], Surat Al-Mursalat [77], Surat An-Naba [78], Surat Al-Ghosiyah [88], Surat Al-Fajr [89], Surat Al-Qiyamah [75], Surat Al-Muthoffifin [83], Surat Al-Haqqah [69], Surat Adz-Dzariat [51], Surat Ath-Thur [52], Surat Al-Waqi’ah [56], Surat Al-Maarij [70], Surat Ar-Rahman [55], Surat Al-Ikhlas [112], Surat Al-Kafirun [109], Surat Al-Falaq [113], Surat An-Nas [114], Surat Al-Fatihah [1].
2)      Periode Makkah II
Surat Yang Turun Pada Periode Ini Adalah :
Surat Al-Qamar [54], Surat Ash-Shaffat [37], Surat Nuh [71], Surat Al-Insan [76], Surat Ad-Dukhon [44], Surat Qaf [50], Surat Thoha [20], Surat Asy-Syuro [26], Surat Al-Hijr [15], Surat Maryam [19], Surat Shod [38], Surat Yasin [36], Surat Az-Zukhruf [43], Surat Al-Jin [72], Surat Al- Mulk [67], Surat Al-Mu’minun [23], Surat Al-Anbiya [21], Surat Al-Furqan [25], Surat Al-Isra [17], Surat An-Naml [27], Surat Al-Kahfi [18].
3)      Periode Makkah III
Surat Yang Turun Pada Periode Ini Adalah :
Surat As-Sajdah [32], Surat Al-Fushilat [41], Surat Al-Jatsiyah [45], Surat An-Nahl [16], Surat Ar-Rum [30], Surat Hud [11], Surat Ibrahim [14], Surta Yusuf [12], Surat Al-Mu’min [40], Surat Al-Qashshosh [28], Surat Az-Zumar [39], Surat Al-Ankabut [29], Surat Luqman [31], Surat Asy-Syura [42], Surat Yunus [10], Surat Saba [34], Surat Father [35], Surat Al-A’raf [7], Surat Al-Ahqaf [46], Surat Al-An’am [6], Surat Ar-Ra’d [13].

b.      Sesudah Hijrah (Periode Madinah )
Periode ini dimulai pada saat nabi sampai di Madinah hingga surat yang terakhir diturunkan. Surat yang turun pada periode ini biasa disebut dengan surat madaniyyah. Surat madaniyyah adalah surat yang diturunkan setelah nabi hijrah walaupun tidak diturunkan dimadinah.
Surat yang diturunkan pada periode ini memiliki ciri-ciri yang spesifik seperti menjelaskan permasalahan ibadah, muamalah, hudud, rumah tangga, warisan, keutamaan berjihad, kehidupan social, aturan-aturan pemerintah menangani perdamaian dan peperangan serta persoalan-persoalan pembentukan hokum syara’.
Ciri yang lain adalah mengkhitabi ahli kitb dan mengajaknya masuk islam, menguraikan perbuatan mereka yang menyimpangkan Kitab Allah dan menjauhi kebenaran serta perselisihan setelah datangnya kebenaran. Mengungkapkan langkah-langkah orang yang munafik.
Adapun surat-surat yang diturunkan pada periode ini adalah :
Surat Al-Baqarah [2], Surat Al-Bayyinah [98], Surat At-Taghobun [64], Surat Al-Jumu’ah [62], Surat Al-Anfal [8], Surat Muhammad [47], Surat Ali Imron [3], Surat Ash-Shaf [61], Surat Al-Hadid [57], Surat An-Nisa [4], Surat Ath-Thalaq [65], Surat Al-Hasyr [59], Surat Al-Ahzab [33], Surat Al-Munafiquun [63], Surat An-Nur [24], Surat Al-Mujadalah [58], Surat Al-Hajj [22], Surat Al-Fath [48], Surat At-Tahrim [66], Surat Al-Mumtahanah [60], Surat An-Nashr [110], Surat Al-Hujurat [49], Surat Yunus [10], Surat Al-Maidah [5].

Titik pembabakan penanggalan keempat periode diatas adalah masa nabi hijrah ke Abesina (+/- 615 M), waktu kembalinya nabi dari thaif (+/- 620 M), dan peristiwa hijrah ke Madinah (+/- 622 M).
Jadi pada intinya, Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur melalui empat periode; Periode Makkah I, Periode Makkah II, Periode Makkah III dan Periode Madinah.

2.      Yang Pertama Dan Yang Terakhir Diturunkan dari Al-Quran
Para ulama berbeda pendapat tentang yang pertama kali diturunkan dan yang terakhir diturunkan dari Al-Quran.
a.       Yang Pertama Diturunkan
Pendapat Pertama, pendapat yang paling shohih tentang yang pertama diturunkan adalah surat Al-‘Alaq ayat 1-5 pada malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran nabi. Imam Bukhori dan Muslim dan ulama yang lainnya telah meriwayatkan dari ‘aisyah :
“ Sesungguhnya apa yang mula-mula terjada pada Rasulullah adalah mimpi yang benar diwaktu tidur. Dia melihat dalam mimpinya sesuatu yang datang bagaikan terangnya pagi. Kemudian dia suka menyendiri. Dia pergi ke gua hira untuk ibadah beberapa malam. Untuk itu dia membawa bekal. Kemudian ia pulang kepada Khodijah maka Khodijahpun memberikan bekal sebagaimana yang terdahulu. Di gua hira ia dikejutkan dengan sebuah kebenaran. Seorang malaikat dating kepadanya dan mengatakan, “Bacalah !”, rasulullah menceritakan, maka akupun menjawab, “Aku tidak pandai membaca”. Malaikat itu kemudian memeluku sehingga aku merasa payah. Lalu aku dilepaskan dan dia berkata lagi, “Bacalah !”. maka akupun menjawab, “Aku tidak pandai membaca”. Lalu dia merangkulku sampai aku merasa kepayahan. Kemudian dia lepaskan lagi dan dia berkata, “Bacalah !”. aku menjawab, “Aku tidak bias membaca “. Maka dia merangkulku yang ketiga kalinya sehingga aku kepayahan. Kemudian dia berkata, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang menciptakan….sampai dengan ..apa yang tidak diketahui”. (Hadits)
Pendapat Kedua, yang pertama diturunkan adalah surat al-Muddatstsir, pendapat ini berdasarkan riwayat dari Asy-Syaikhon dari abi Salamah bin Abdul Rahman yang telah bertanya kepada jabir bin Abdullah mengenai yang pertama diturunkan dari Al-Quran. Dia menjawab bahwa yang pertama diturunkan adalah Al-Muddatstsir. Lalu abi salamah bertanya kembali, “apakah iqra ?”. kemudian Jabir membacakan sebuah hadits, “ketika Aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu kuangkat kepalaku, tiba-tiba malaikat yang pernah mendatangiku di gua Hira duduk diatas kursi dianatara langit dan bumi. Aku merasa ketakutan sekali, kemudian aku pulang dan berkata,’selimuti aku, selimuti aku’, lalu Allah menurunkan “Wahai orang yang berselimut, bangkitlah dan berikanlah peringatan”.
            Jawaban atas pendapat kedua ini :
1.      Surat al-mudatsir adalah surat yang pertama diturunkan secara lengkap, surat al-mudatsir turun secara sempurna sebelum surat al-‘alaq turun secara sempurna.
2.      Adapun yang dimaksud jabir adalah yang pertama diturunkan setelah terhentinya wahyu dari wahyu yang diturunkan pertama kali yakni surat al-‘alaq.
3.      Adapun surat al-mudatsir adalah surat yang pertama kali diturunkan tentang perintah berdakwah. Sebagian ulama mengibaratkan bahwa: yang pertama diturunkan untuk kenabian adalah (Iqra Bismirabbika) dan yang pertama kali diturunkan untuk kerasulan adalah (yaa ayyuhal muddatstsir).
Pendapat Ketiga, yang pertama diturunkan adalah surat Al-Fatihah Berdasarkan hadits dari Abu ishaq dari Maisarah. Namun menurut qadi Abu Bakar dalam kitabnya Al-Intishar, hadits tersebut adalah hadits munqathi’.

Pendapat Keempat, adapun yang pertama diturunkan adalah “Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim”.pendapat ini berdasarkan keterangan yang dikeluarkan oleh ibnu Jarir dan lainnya dari jalan Adh-Dhahaki dari ibnu Abbas : “sesuatu yang pertama yang diturunkan jibril kepada nabi adalah : “Wahai Muhammad, mintalah perlindungan dan katakanlah Bismillahirrahmanirrahim”.

b.      Yang Terakhir Diturunkan.
Para ulama berbeda pendapat tentang surat yang terakhir diturunkan. Adapun pendapat-pendapat itu adalah :
1.      Dikatakan bahwa yang terakhir diturunkan adalah ayat yang berkenaan dengan riba, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Imam Bukhori dari Ibnu Abbas, “Yang terakhir diturunkan adalah ayat yang berkenaan dengan riba”.adapun yang dimaksud ayat riba adalah surat Al-Baqarah ayat 268.
2.      Dikatakan bahwa yang terakhir diturunkan dari Al-Quran adalah surat Al-Baqarah ayat 281 sebagaimana yang dikeluarkan oleh Imam Nasai dari Ibnu Abbas dan Said bin Jubair.
3.      Said bin Musayyab meriwayatkan bahwa yang terakhir diturunkan adalah ayat yang berkenaan dengan hutang yaitu surat Al-Baqarah ayat 282.
Adapun tiga riwayat diatas dapat disatukan karena tiga ayat diatas diturunkan berbarengan  sebagaimana urutan susunannya didalam mushaf al-qur’an, yakni ayat riba, kemudian ayat “wattaquu yauma”, kemudian ayat tentang hutang, karena ayat ayat tersebut berada dalam satu kisah. Setiap perawi mengatakan bahwa sebagian dari yang diturunkan itu sebagai yang terakhir kali dan itu memang benar, dengan demikian maka ketiga ayat tersebut tidak bertentangan.
4.      Dikatakan bahwa yang terakhir diturunkan adalah ayat Kalalah yaitu surat An-Nisa 176 sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Asy-Syaikhoni dari al-Barra bin azaab.
5.      Dikatakan juga bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah at-taubah ayat 128-129 sampai akhir surat. sesuai dengan yang terdapat dalam al-mustadrak dari Ubai bin Kaab.
Mungkin yang dimaksud adalah ayat yang terakhir dari surat at-taubah. Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas , hadits ini memberitahukan bahwa surat ini adalah surat yang terakhir kali diturunkan karena ini mengisyaratkan wafatnya nabi sebagaimana yang difahami oleh para sahabat. Atau mungkin surat ini adalah surat yang terakhir diturunkan.
6.      Dikatakan bahwa yang diturunkan terakhir kali adalah Surat Al-Maidah ayat 3, sesuai dengan yang diriwayatkan oleh tirmidzi dan Al-Hakim dari ‘Aisyah. Adapun syaikh Al-Qaththan berpendapat bahwa surat al-maidah adalah surat yang terakhir diturunkan berkenaan dengan hukum halal dan haram.
7.      Ibnu mardawih meriwayatkan dari jalan mujahid dari ummu Salamah bahwa yang terakhir diturunkan adalah surat ali Imran ayat 195.
8.      Imam Bukhori meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa yang terakhir diturunkan adalah surat An-Nisa ayat 93. Adapun ayat ini adalah ayat terakhir yang diturunkan yang berkenaan dengan hukum membunuh orang mumin secara sengaja.
9.      Ada yang berpendapat, ibnu Abbas berkata bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah surat An-Nashr.
Menurut Al-Qadi Abu Bakar Al-Baqalani dalam Al-Intishar, bahwa semua pendapat mengenai yang terakhir diturunkan sama sekali tidak disandarkan kepada nabi, boleh jadi semua pendapat itu diucapkan karena ijtihad atau dugaan saja. Mungkin masing masing memberitahukan tentang apa yang terakhir kali didengarnya dari nabi saat beliau wafat maupun saat nabi mengalami sakit, dan masih banyak kemungkinan kemungkinan yang lainnya.
Mengenai surat Al-Maidah ayat 3. Imam As-Suyuthi mengatakan bahwa ayat itu diturunkan di ‘Arafah pada tahun Haji Wada’. Pada lahirnya, ayat ini menunjukan penyempurnaan terhadap seluruh kewajiban dan hukum sebelumnya. As-sudyi menjelaskan bahwa setelah al-maidah ayat 3, tidak ada lagi ayat yang turun tentang halal dan haram .
Oleh karena itu para ulama menyatakan bahwa ayat ini diisyaratkan sebagai keterangan kesempurnaannya agama Islam. Allah telah menempatkan umat muslim pada suatu tempat atau negri yang suci dimana tidak ada orang musyrik satu orang pun serta menghajikan mereka di rumah suci tanpa disertai oleh orang musyrik seorang pun, padahal sebelumnya mereka berhaji bersama orang musyrik, maka itu adalah nikmat Allah yang telah Allah cukupkan kepada mereka. Hal ini senada dengan apa yang telah disebutkan Imam Nawawi dalam kitab tafsirnya “Maroh Labid Tafsir An-Nawawi”  yang masyhur dengan nama Tafsir Munir.
Adapun pendapat yang menjadi pegangan mengenai yang diturunkan terakhir kali adalah sebagaimana yang terdapat dalam kitab at-tibyan karya Imam Ash-Shabuni. Didalam kitab itu dijelaskan bahwa yang diturunkan terakhir kali adalah surat Al-Baqarah ayat 281. Karena ayat tersebut diturunkan Sembilan hari sebelum Rasul wafat dimana rasul wafat pada hari senin, 3 Rabiul Awwal. Mengenai surat Al-Maidah ayat 3, ayat tersebut diturunkan pada saat haji wada di padang arafah. Maka ayat tersebut bukanlah ayat yang terakhir diturunkan karena setelahnya masih turun beberapa ayat.
E.     Turunnya Al-Quran  Dengan Tujuh Huruf
Orang arab mempunyai dialek yang bermacam-macam. Hal ini karena selain mereka memperoleh dialek dari pendahulunya, mereka juga mendapatkan dialek dari pengaruh Negara tetanggannya. Namun dari sekian banyak dialek dari bangsa Arab, ada satu dialek yang dijadikan sebagai bahasa pemersatu, dialek tersebut adalah dialeknya suku Quraisy.
Dialek atau logat suku Quraisy dijadikan bahasa persatuan dan bahasa resmi yang digunakan bangsa arab. Hal ini dikarenakan tugas suku Quraisy untuk menjaga kabah, menjamu para Jemaah haji, memakmurkan masjid al-haram dan menguasai perdagangan, sehingga bahasa mereka dijadikan bahasa yang paling unggul diantara bahasa bahasa dari berbagai suku bangsa arab lainnya.
Dengan demikian wajarlah Al-Quran diturunkan dalam lisan atau logat Quraisy untuk mempersatukan bangsa arab dan agar tidak ada yang bisa menandingi keindahan gaya bahasa Quran.
Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 1-2 : “ Ini adalah ayat-ayat kitab (Al-Quran) yang nyata dari Allah. Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa arab agar kamu memahaminya.”
1.      Dalil mengenai diturunkannya Quran dalam tujuh huruf
Hadits-hadits mengenai diturunkannya Al-Quran dalam tujuh huruf sangatlah banyak. Menurut Imam As-Suyuthi bahwa hadits hadits ini diriwayatkan dari dua puluh sahabat. Maka Abu Ubaid Al-Qasim menetapkan kemutawatiran Hadits-hadits ini. Adapun dalil-dalil mengenai diturunkannya Al-Quran dengan tujuh huruf  adalah :
·         Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda : “ Jibril membacakan Quran kepadaku dengan satu huruf. Kemudian aku berulang kali mendesak dan meminta agar huruf itu ditambah dan ia pun menambahnya kepadaku sampai dengan tujuh huruf.”
·         Imam Muslim meriwayatkan dari Ubay bin Kaab: “ketika nabi berada di dekat parit bani Gafar, ia didatangi jibril seraya mengatakan : ‘Allah memerintahkanmu agar membacakan Al-Quran kepada umatmu dengan satu huruf.’ Ia menjawab : ‘Aku memohon kepada Allah ampunan dan maghfirah-Nya karena umatku tidak dapat melaksanakan perintah itu.’ Kemudian jibril datang lagi untuk yang kedua kalinya dan berkata : ‘Allah memerintahkanmu agar membacakan Al-Quran kepada umatmu dengan dua huruf.’ Nabi menjawab : ‘Aku memohon kepada Allah ampunan dan maghfirah-Nya karena umatku tidak dapat melaksanakannya.’ JIbril datang untuk yang ketiga kalinya, lalu mengatakan : ‘Allah memerintahkanmu agar membacakan Al-Quran kepada umatmu dengan tiga huruf.’ Nabi menjawab : ‘Aku memohon kepada Allah ampunan dan maghfirah-Nya karena umatku tidak dapat melaksanakannya.’ Kenudian Jibril datang untuk yang keempat kalinya seraya berkata : Allah memerintahkanmu agar membacakan Al-Quran kepada umatmu dengan tujuh huruf, dengan huruf mana saja mereka membaca, mereka tetap benar.”
·         Ketika terjadi peselisihan antara Umar bin Khatab dan Hisyam bin Hakim karena umar mendengar hisyam membaca surat Al-Furqan berbeda dengan apa yang telah didengar Umar dari Rasulullah, maka Rasulullah bersabda : “ Sesungguhnya Al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu diantaranya.”
2.      Pengertian Tujuh Huruf
Tentang yang dimaksud tujuh huruf atau Sab’atu Ahrufin dalam hadits hadits diatas, dikalangan para ulama terdapat beberapa pendapat. Sebelum pembahasan mengenai apa yang dimaksud dengan tujuh huruf, akan dikupas terlebih dahulu pengertian tujuh huruf dalam segi bahasanya.
Al-Ahruf adalah jama dari Harf  yang mempunyai banyak makna. Menurut salah seorang pengarang kamus, Harf  berarti ujungnya atau tepinya. Harf gunung berarti puncaknya gunung.
Pengertian huruf ialah salah satu huruf hijaiyah. Seseorang mengabdi kepada Allah secara harf berarti dia hanya beribadah di satu sisi saja, missalnya seseorang hanya beribadah kepada Allah hanya ketika senang atau musibah menimpa dirinnya. Dengan demikian, “wa nuzila al-quran ‘ala sab’ati ahruufin” bukan berarti satu kata dalam Al-Quran mempunyai tujuh makna melainkan satu makna yang ada pada satu kata didalam Quran memiliki enam kata lain yang maknanya sama.
Maka dari itu yang dimaksud dengan harf dalam sab’atu ahrufin adalah “segi” atau “wajah”. Maksudnya suatu kata dalam Al-Quran boleh dibaca dengan wajah yang dikehendaki oleh si pembaca sebagai ganti dari pemilik Al-Quran untuk lebih memudahkan kepada pembaca Quran sesuai dengan ketentuan yang berlaku.



3.      Perbedaan Ulama Mengenai Pengertian Tujuh Huruf
Para ulama berbeda pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan tujuh huruf, menurut syaikh Manna Al-Qathan, beberapa diantara pendapat yang mendekati kebenaran adalah :
Pertama, yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab mengenai suatu makna; jika bahasa mereka berbeda dalam mengungkapkan suatu makna, maka Quran pun diturunkan sejumlah lafadz yang sesuai dengan ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu itu dan apabila tidak terdapat  perbedaan maka Quran hanya diturunkan dalam satu lafadz saja.
 Dikatakan bahwa ketujuh bahasa tersebut adalah bahasa Quraisy, Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Yaman. ada pula yang mengatakan Quraisy, Huzail, Tamim, Azad, Rabiah, Hawazin dan Sa’d bin Bakr.
Tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab dalam mengungkapkan satu makna yang sama. Misalnya, Aqbil, Ta’ali, halumma, ‘ajal dan asro’. Lafaz lafaz tersebut mengungkapkan satu makna yang sama yakni menghadap. Pendapat ini dipilih oleh sfyan bin uyainah, Ibnu Jarir ibnu Wahab dan lainnya.
Dalil bagi pendapat ini adalah :
“ Jibril mengatakan : ‘wahai Muhammad bacalah Quran dengan satu huruf.’ Lalu mikail mengatakan, ‘Tambahkanlah.’ Jibril berkata lagi, ‘dengan dua huruf.’ Jibril menambahkannya hingga mencapai enam atau tujuh huruf. Lalu ia berkata, ‘semua  itu obat penawar yang memadai, selama ayat adzab tidak tertutup dengan ayat rahmat dan ayat rahmat tidak ditutup dengan ayat adzab. Seperti kata-kata halumma, ta’ala, aqbil, izhab, isra dan ‘ajal.’” (HR Ahmad dan Tabrani)
Kedua, suatu kaum berkata bahwa yang dimaksud tujuh huruf adalah bahwa ada tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab yang tersebar didalam Quran. Secara keseluruhan. Al-Quran mencakup tujuh bahasa dengan sebagian besar menggunakan bahasa Quraisy, adapun bahasa yang lainnya adalah Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Yaman.
Abu Ubaid berkata : “ yang dimaksud bukanlah setiap kata boleh dibaca dengan tujuh bahasa tetapi tujuh bahasa yang bertebaran dalam Quran. Sebagiannya bahasa Quraisy dan sebagiannya menggunakan bahasa yang lain. Sebagian bahasa itu lebih beruntung karena dominan dalam Quran.
Ketiga, Sebagian para ulama berpendapat bahwa tujuh huruf adalah tujuh wajah, yakni amr, nahyu, wa’d, wa’id, jadal, qasas dan matsal. Sebagaimana  hadits yang diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaki dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Kitab umat terdahulu diturunakn dari satu pintu dan dengan satu huruf. Sedang Quran diturunkan melalui tujuh pintu dan tujuh huruf, yaitu zajr (larangan), amr, halal, haram, mutasyabih dan amtsal.”
Keempat, sebagian ulama berpendapat  bahwa yang dimaksud tujuh huruf adalah tujuh macam hal yang didalamnya terdapat perbedaan.yaitu : Ikhtilaful asma (perbedaan kata benda), perbedaan I’rab (harokat akhir), perbedaan dalam tasrif, perbedaan dalam taqdim dan takhir, perbedaan dalam segi ibdal, perbedaan karena adanya penambahan atau pengurangan dan perbedaan lahjah seperti taghliz, tarqiq, fathah, imalah dan lainnya.
Kelima, sebagian ulama berpendapat bahwa tujuh huruf bukanlah tujuh huruf secara harfiyah yakni bilangan diantara enam dan delapan, melainkan sebagai lambing kesempurnaan menurut kebiasaan orang arab. Hal ini mengisyaratkan bahwa Al-Quran  dari segi bahasa dan sastra arab sudah mencapai kesempurnaannya.
Keenam,  sebagian ulama berpendapat bahwa tujuh huruf adalah tujuh qiroat. Para ulama pendukung pendapat ini mengartikan bahwa ahruf  adalah jama dari lafadz huruf yang artinya adalah tujuh qiraat, yaitu qiraat yang dibawa oleh imam qiraat sab’ah yakni Imam Nafi, Imam Ibnu Katsir, Imam Ibnu Amir, Imam Abi amr,Imam Ashim,  Imam Hamzah dan Imam Kisai.
4.      Hikmah Diturunkannya Al-Quran dengan Tujuh Huruf
Allah yang Mahabijaksana menurunkan Al-Quran dengan bahasa arab. Orang arab mempunyai dialek yang bermacam-macam. Hal ini karena selain mereka memperoleh dialek dari pendahulunya, mereka juga mendapatkan dialek dari pengaruh Negara tetanggannya. Oleh karena itu Allah menurunkan Quran dengan tujuh huruf.
Hikmah dari pada diturunkannya Quran dalam tujuh adalah :
a)      Memudahkan bacaan dan hafalan juga pemahaman bagi orang yang ummi, ataupun bagi orang yang berbeda dialek dan belum terbiasa menghafal syariat.
Ubai berkata : “Rasulullah bertemu dengan Jibril di Ahjarul Mira’, sebuah tempat di Kuba, lalu berkata : ‘Aku ini diutus kepada umat yang ummi, diantara mereka ada anak-anak, pembantu, kakek-kakek dan nenek-nenek’ Maka kata Jibril : ‘Hendaklah mereka membaca quran dengan tujuh huruf.”
b)      Bukti kemukjizatan Quran yang dapat dilihat dengan naluri kebahasaan bangsa Arab. Setiap orang arab dapat mengalunkan huruf-huruf dan kata-katanya sesuai dengan dialek dan watak dasar bahasa kaumnya masing-masing.
Maka dari itu, mukjizat Quran bukan pada bahasanya melainkan pada naluri kebahasaan mereka itu sendiri, sehingga ketika Quran didatangkan oleh Rasulullah sebagai tantangan kepada bangsa arab untuk membuat hal yang serupa dengan Quran, tidak ada yang sanggup menandinginya.
c)      Bukti kemukjizatan Quran dalam aspek makna dan hukumnya. Setiap perubahan bentuk lafadz pada sebagian huruf atau kata dapat menimbulkan wawasan baru dalam penyimpulan hukum-hukum. Inilah yang menyebabkan Quran tetap relevan untuk setiap masa.