NUZUL AL-QUR’AN
A. Pengertian Nuzulul
Quran
Nuzul berasal
dari kata نَزَلَ
yang berarti telah turun, adapun نُزُوْلاً adalah masdar dari kata nazala yang artinya turun atau
perturunan, maka bisa diartikan bahwa nuzulul quran artinya adalah turunnya
Al-Quran. Nuzulul Quran adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting
penurunan wahyu Allah kepada nabi dan rasul terakhir agama Islam
yakni nabi Muhammad SAW. peristiwa
ini merujuk kepada telah turunnya risalah baru yang memberi rahmat bagi seluruh
alam yaitu Qur’an.
Al-Quran
diturunkan dalam dua cara, Turunnya Al-Qur’an yang pertama kali pada malam
lailatul qadar merupakan pemberithauan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri
dari malaikat-malaikat bahwa umat
Muhammad adalah umat yang paling mulia dengan diturunkannya risalah baru ini.
Sedangkan Al-Quran diturunkan kedua kalinya secara bertahap untuk meneguhkan
dan memantapkan hati rasul serta mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian
sampai Allah sempurnakan dan mencukupkan agama ini untuk umat nabi Muhammad.
Jadi Al-Quran diturunkan dalam dua tahap, tahap
pertama Quran diturunkan langsung dalam artian secara keseluruhan secara utuh
Al-Quran diturunkan ke langit dunia. Dan pada tahapan kedua Al-Quran diturunkan
berangsur-angsur dalam artian turunnya al-quran dari langit dunia kepada nabi
yang dibawa oleh Jibril ayat demi ayat atau surat demi surat sesuai dengan
situasi yang terjadi pada nabi dan berbagai peristiwa dan kejadian yang terjadi
agar rasul mantap dalam menyampaikan risalah dari Tuhan semesta alam.
B. Prosedur Penurunan
Wahyu kepada Nabi Muhammad
1.
Turunnya
Al-Quran Secara Langsung dan Berangsur-angsur
Al-Quran
diturunkan dalam tiga tahap, dalam tiga tahap tersebut Al-Quran diturunkan
langsung secara keseluruhan pada tahap pertama dan kedua, sedangkan pada tahap
ketiga Al-Quran diturunkan secara berangsur-ngsur. Adapun tiga tahapan itu
adalah :
·
Tahap
Pertama, yaitu saat Allah menyimpan
Quran di Lauh al-Mauhfudz, Firman Allah :
بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ
مَجِيْدٌ. فِيْ لَوْحٍ مَحْفُظٍ
“Bahkan ia
adalah Quran yang mulia, yang tersimpan di Lauh Al-Mahfudz.” (Al-Buruj : 21-22)
·
Tahap
Kedua, yaitu saat Allah menurunkan Al-Quran dari lauh al-mahfudz ke baitul
izzah di langit dunia.
Pada tahap pertama dan
kedua Quran diturunkan sekaligus. Al-Quran diturunkan sekaligus dari lauh al-mahfudz
ke bait al-izzah di langit dunia pada bulan Ramadhan tepatnya pada Lailatul
Qadr. Allah berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ
الَّذِيْ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاَنَ هُدًا لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاةٍ مِنَ
الْهُدًا وَّالْفُرْقَان
“Bulan Ramadhan adalah
bulan dimana Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara haq dan yang
bathil.” (Al-Baqarah 185).
Allah juga berfirman,
إنَّا اَنْزَلْنَاهُ فِيْ
لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“
Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Quran pada lailatul qadr.” (Al-Qadr : 1).
Banyak nas nas yang
senada dengan pendapat diatas bahwa Al-Quran diturunkan sekaligus dari lauh
mahfudz ke baitul izzah pada lailatul qadr. Ibnu ‘Abbas berkata : “Quran
dipisahkan dari Az-Zikr lalu diletakan di baitul Izzah di langit dunia. Maka
jibril mulai menurunkannya kepada Nabi Muhammad Saw.” Dan pendapat ini yang
dipegang oleh kebanyakan para ulama.
Namun Amir bin Syarahil
berpendapat bahwa dalil dalil diatas menunjukan kepada diturunkannya Quran
pertama kali kepada rasulullah, yaitu pada malam yang diberkahi di bulan Ramadhan.
Kemudiaan turunnya Quran ini berlanjut secara bertahap sesuai dengan kejadian
dan peristiwa yang terjadi.
·
Tahap
Ketiga, dimana qur’an dibawa oleh Jibril dan disampaikan kepada nabi Saw atas
perintah Allah secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian dan peristiwa
yang terjadi pada saat itu. Allah berfirman,
وَ إنَّهُ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ .
نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْأَمِيْنُ . عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ
الْمُنْذِرِيْنَ . بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِيْنٍ
“ Dan Quran ini benar
benar diturunkan oleh tuhan semesta alam ; dia dibawa turun oleh ruhul amin
(Jibril) kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang dari orang-
orang yang memberi peringatan; dengan bahasa arab yang jelas.”(Asy-Syuaro :
192-195).
2.
Cara
wahyu Allah turun kepada Malaikat
a.
Allah
menurunkan wahyu kepada para malaikat tanpa perantara dan dengan pembicaraan
yang dipahami oleh para malaikat itu. Pendapat ini sesuai dengan firman Allah
Swt dalam Surat Al-Anfal ayat 12,
إِذْ يُوحِى رَبُّكَ إِلَى الْمَلَئِكَةِ
إِنِّى مَعَكُمْ فَثَبِّتُوْا الَّذِيْنَ آمَنُوا
“ Ingatlah ketika tuhanmu mewahyukan kepada Malaikat :
‘sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang
beriman.”
Sebuah hadits dari
Nawas bin Sam’an ra. Mengatakan : Rasulullah Swa Bersabda : “Apabila Allah
hendak memberikan wahyu mengenai sesuatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu
;maka langitpun tergetarlah dengan getaran – atau dia mengatakan dengan
goncangan – yang dahsyat karena takut kepada Allah Azza Wajalla. Apabila
penghuni langit mendengar hal itu, maka pinsan dan jatuh bersujudlah mereka itu
kepada Allah. Yang pertama sekali mengangkat muka diantara mereka itu adalah
Jibril, maka Allah membicarakan wahyu itu kepada Jibril menurut apa yang
dikehendaki-Nya. Kemudian Jibril berjalan melintasi para malaikat. Setiap kali
dia melalui satu langit, maka bertanyalah kepada malaikat langit itu : ‘Apakah
yang telah dikatakan oleh Tuhan kita wahai Jibril ?’ Jibril menjawab : ‘Dia
mengatakan yang haq dan Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Para malaikat
itu semuanya pun mengatakan seperti apa yang
dikatakan Jibril lalu Jibril menyampaikan wahyu itu seperti
diperintahkan Allah Azza Wajalla.” (HR Tabrani)
Hadits ini
menjelaskan bagaimana wahyu turun.
Pertama Allah berbicara, dan para malaikat mendengarkannya. Dan pengaruh wahyu
itupun sangat dahsyat. Apabila pada lahirnya – didalam perjalanan jibril untuk
menyampaikan wahyu – Hadits diatas menunjukan turunnya wahyu khusus mengenai
Quran, akan tetapi Hadits tersebut juga menjelaskan cara turunnya wahyu secara
umum.
b.
Al-Quran
dituliskan di Lauh Al-Mahfudz, hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat
Al-Buruj ayat 21-22:
بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ
مَجِيْدٌ. فِيْ لَوْحٍ مَحْفُظٍ
“Bahkan ia adalah Quran yang mulia, yang tersimpan
di Lauh Al-Mahfudz.”
Demikian pula bahwa Al-quran itu diturunkan sekaligus ke baitul Izzah yang
berada di langit dunia pada malam lailatul qadar di bulan Ramadhan sesuai
dengan firman Allah dalam Surat Al-Qadar ayat 1, “sesungguhnya kami
menurunkannya – Quran – pada malam Al-Qadar.” Juga
pada firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 185, “Bulan Ramadhan, bulan yang
didalamnya diturunkan Quran.”
Dikatakan dalam satu
riwayat bahwa telah dipisahkan Qur’an dari Adz-Dzikr, lalu diletakan di baitul
izzah di langit dunia; kemudian Jibril menurunkannya kepada Nabi Saw.
Oleh sebab itu ulama
berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Qur’an kepada Jibril
dengan beberapa pendapat, diantaranya :
1)
Jibril
menerimanya secara pendengaran dari Allah dengan lafalnya yang khusus
2)
Jibril
menghafalnya dari lauh mahfuz
3) Bahwa maknanya
disampaikan kepada Jibril sedangkan lafaznya berasal dari Jibril atau Nabi
Muhammad Saw.
Adapun
pendapat yang paling shahih adalah pendapat pertama yang juga dijadikan
pegangan oleh kaum Ahlu as-Sunnah wa Al-Jamaah.
3.
Cara
Wahyu Allah Turun Kepada Para Rasul
Allah
menurunkan wahyu kepada para rasul dengan melalui perantara dan tanpa melalui
perantara.
A.
Melalui
Perantara
Allah menurunkan wahyu
kepada rasul-Nya melalui perantara yakni malaikat Jibril, malaikat Jibril
adalah yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para rasul, Jibril juga lah yang
datang kepada nabi Musa, nabi Ibrahim, nabi Isa dan nabi-nabi yang lainnya.
B.
Tanpa
Melalui Perantara
Allah menurunkan wahyu kepada rasul tanpa melalui
perantara dengan beberapa cara :
1)
Mimpi
yang benar dalam tidur
Hal ini merupakan persiapan bagi Rasulullah untuk
menerima wahyu dalam keadaan sadar dan tidak tidur. Didalam Quran, wahyu
diturunkan ketika beliau dalam keadaan sadar, terkecuali bagi orang yang
mendakwakan bahwa surat Kutsar diturunkan melalui mimpi, karena adanya satu
hadits dalam shahih Muslim dari Anas ra. mengenai hal itu. Mimpi yang benar itu
tidaklah khusus bagi para rasul saja, melainkan tetap ada pada kaum Mukminin
sekalipun mimpi itu bukanlah wahyu, seperti disabdakan oleh Rasulullah Saw.
“Wahyu telah terputus, tetapi berita-berita gembira tetap ada, yaitu mimpi
orang mukmin.”
2)
Allah
berfirman dalam kalam-Nya dibalik tabir sebagaimana berfirmannya Allah secara
langsung kepada Musa as. Hal ini pun terjadi kepada Nabi Muhammad Saw pada
malam Isra dan Miraj disaat nabi berada di sidratul muntaha menerima perintah
salat langsung dari Allah Swt.
4.
Cara
Penyampaian Wahyu oleh Malaikat Kepada Rasul
Ada dua cara
penyampaian wahyu oleh malaikat kepada rasul, diantaranya :
a.
Datang
kepada rasul suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat.
Apabila wahyu turun
dengan cara ini, maka rasul mengumpulkan segala kekuatan dan kesadaran untuk
menerima, menghafal dan memahaminya. Dengan demikian maka cara ini adalah cara
yang paling berat bagi Rasul. Dan suara itu mungkin seperti suara kepakan sayap
para malaikat, sesuai dengan hadits, “apabila Allah menghendaki suatu urusan di
langit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena tunduk kepada
firman-Nya, bagaikan gemercingnya mata rantai diatas batu-batu yang licin.”
(HR. Bukhari)
b.
Malaikat
datang menyampaikan wahyu kepada rasul dengan menjelma menjadi seorang laki-laki.
Cara ini adalah cara
yang lebih ringan bagi rasul dari pada cara sebelumnya. Jibril menjelma menjadi
seorang laki-laki untuk menyenangkan Rasulullah sebagai manusia.
Pada cara penyampaian
wahyu yang pertama – seperti gemerincing lonceng – nabi dituntut untuk
menyesuaikan rohaninya dengan ketinggian rohani malaikat sehingga hal ini
memberatkan kepada nabi. Adapun cara yang kedua dengan menjelmanya jibril
menjadi seorang laki – laki maka rasul tidak mengalami keberatan karena tingkat
rohani nabi dan jibril pada saat itu menjadi seimbang. Ibnu Khaldun berkata :
“dalam keadaan yang pertama, Rasulullah melepaskan qadratnya sebagai manusia
yang bersifat jasmani untuk berhubungn dengan malaikat yang sifatnya rohani.
Sedang dalamkeadaan lain sebaliknya, malaikat berubah dari yang sifatnya rohani
menjadi manusia yang sifatnya jasmani”.
Kedua cara penyampaian
diatas sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a., Bahwa Haris bin
Hisyam r.a. bertanya kepada rasul Saw. mengnai hal itu dan nabi menjawab, “ Kadang
kadang ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan itulah yang paling
berat bagiku, lalu ia pergi dan aku telah menyadari apa yang dikatakannya. Dan
terkadang malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia
berbicara kepadaku dan akupun memahami apa yang dia katakana.”
Kedua cara diatas pun
sesuai dengan firman Allah dalam surat Asy-Syura ayat 51 :
وَمَا
كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْيَا اَوْ مِنْ وَرآءِى
حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رُسُوْلاًفَيُوْحِىَ بِاِذْنِهِ مَا يَشَآءُ .
اِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ
“dan tidak ada bagi
seorang manusia pun bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan : perantara
wahyu atau dari balik tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan
kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi dan Mahabijaksana.”
C. Alasan Dan Hikmah
Diturunkannya Al-Quran Secara Berangsur-Angsur
Setelah nuzul nya
Al-Quran secara menyeluruh atau dalam aspek kebahasaan disebut inzal, maka
Al-quran pun diturunkan secara bertahap yang dalam aspek kebahasaan disebut
tanzil. Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur dari pertama diturunkanya
pada lailatul qadr di bulan ramadhan sampai wahyu yang terakhir diturunkan
sehingga sempurnalah penurunan Qur’an.
Al-Quran berbeda dengan
kitab-kitab samawi sebelumnya, kitab Injil, Taurat dan Zabur diturunkan secara
lengkap dan tidak berangsur-angsur sementara Quran diturunkan berangsur-angsur
kurang lebih selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari.
Dibawah ini akan
dijelaskan mengapa Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur dan apa hikmah
dibalik diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.
1.
Meneguhkan
atau menguatkan hati Nabi Muhammad.
Nabi
Muhammad diutus ditengah tengah manusia yang keras, membangkang dank eras
kepala tetapi nabi dengan tulus terus mengajak mereka kepada kebenaran. Wahyu
turun dari waktu ke waktu sehingga dapat meneguhkan hatinya dalam kebenaran.
Ketika rasul didustakan dan dianiaya oleh kaumnya, maka Allah menurunkan kisah
kisah para nabi dan rasul sebelumnya bahwa mereka pun sama seperti nabi, namun
dengan kesabaran maka pertolongan Allah pun akan datang. Maka nabi termotivasi
oleh wahyu wahyu tersebut dan mengukuhkan kembali hatinya untuk berdakwah.
2.
Mempermudah
Hafalan dan Pemahaman
Al-Quran
diturunkan ditengah-tengah umat yang tidak bisa membaca dan menulis serta tidak
mempunyai pengetahuan untuk menulis (Ummi). Catatan bagi mereka adalah hafalan.
Jauhnya mereka dari hiruk pikuk kota pada saat itu membuat mereka mempunyai
kejernihan fikiran sehingga daya hafal pun sangat kuat.
Oleh
karena itu Allah yang Mahabijaksana mengetahui metode apa yang baik agar
Al-Quran sampai dan difahami oleh bangsa yang ummi. Allah menurunkan Al-Quran
secara berangsur-angsur adalah sebagai metode terbaik bagi bangsa yang ummi
sehingga mereka dapat menghafal dan memahami ayat demi ayat sehingga Al-Quran
akan terkumpul dan teramalkan secara sempurna sebagai agama yang sempurna dan
diridhoi Allah.
Setiap
turun ayat, maka para sahabt langsung menghafal, memikirkan, mempelajari
hukumnya dan mengamalkan isinya. Maka yang demikian ini menjadi sebuah metode
pembelajaran dalam kehidupan para tabi’in bahkan mahasiswa pada zaman ini
dengan sistim kredit semesternya.
3.
Sebagai
Tantangan dan Mukjizat
Nabi dihadapkan kepada
kaum Quraisy yang sombong, angkuh dan senantiasa berada dalam kesesatan. Selama
berdakwah, nabi sering dihadapkan pada suatu pertanyaan yang sia-sia, maka
Allah menurunkan wahyu kepada nabi sebagai jawaban kepada orang kafir dengan
jawaban yang lebih baik maknanya.
Maka dalam menjawab
segala pertanyaan dari kaumnya yang menantang dan ingin melemahkan nabi, Nabi
Muhammad menjawab sesuai dengan apa yang diwahyukan oleh Allah.
Disaat mereka keheranan
terhadap turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur padahal kitab-kitab
sebelumnya diturunkan sekaligus, maka Allah menjelaskan kepada mereka tentang
hal itu. Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur sedang mereka tidak
sanggup membuat hal yang serupa dengan Al-Quran. Hal ini dapat lebih menunjukan
kemukjizatan Al-Quran dari pada diturunkannya Al-Quran sekaligus.
4.
Kesesuaian
Dengan Peristiwa-Peristiwa Dan Pentahapan Dalam Penetapan Hukum
Bangsa arab khususnya
kaum Quraisy tidak akan tunduk kepada Al-Quran jika Al-Quran tidak menghadapi
mereka dengan bijaksana. Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur sesuai
dengan peristiwa yang terjadi agar lebih dapat difahami. Ketika ada peristiwa
mengenai suatu masalah, maka Allah akan menurunkan Quran kepada nabi sebagai
jawaban atau hukum tentang peristiwa tersebut. Termasuk keadaan social bangsa
arab pada waktu pertama kali Rasul diutus, maka Allah menurunkan ayat tentang dasar – dasar keimanan disertai
bukti-bukti dan alasan yang logis sehingga lambat laun keimana tertanam didalam
hati mereka.
Ayat demi ayat pun
turun sesuai dengan peristiwa yang terjadi dengan kaum muslim berkaitan dengan
perjuangannya menegakan Islam sehingga Al-Quran menjadi dasar landasan mereka
dalam menegakan agama Allah ini.
Al-Quran diturunkan
secara bertahap juga sebagai pentahapan dalam menetapkan hukum. Surat ar-rum
ayat 38-39 menjelaskan disyariatkannya
salat prinsip umum mengenai zakat yang
diperbandingkan dengan riba.
Lalu Surat al-an’am
ayat 51-52 menjelaskan tentang pokok-pokok keimanan dan dalil tauhid,
menghancurkan kemusyrikan, menerangkan makanan yang halal dan yang haram juga
untuk memuliakan harta benda, darah dan kehormatan.
Jika Al-Quran tidak
diturunkan secara berangsur-angsur, maka tidak akan ada ilmu Nasikh mansukh.
Dan para ulama akan kebingungan dalam menetapkan hukum.
5.
Bukti
Yang Pasti Bahwa Al-Quran Diturunkan Dari Sisi Yang Mahabijaksana Dan Maha
Terpuji
Dengan
cara berangsur-angsur, dari satu wahyu ke wahyu selanjutnya terdapat jeda yang
dipakai oleh para sahabat untuk membaca, mengkaji dan memahami sehingga ayat
yang satu dengan ayat yang lainnya dapat menimbulkan hukum hukum dan lain
sebagainya. Juga akan ditemukan bahwa Al-Quran terangkai begitu padat, gaya
yang khas dan tiap kalimatnya bagaikan mutiara yang indah yang tidak akan
tertandingi oleh manusia.
Al-Quran
memiliki keserasian antara satu ayat dengan yang lainnya. Seandainya Al-Quran
adalah perkataan manusia ynang disampaikan dalam berbagai situasi, peristiwa
dan kejadian, tentulah didalamnya terjadi ketidakserasian dan saling
bertentangan satu dengan yang lainnya .
Maka benar
firman Allah dalam surat Hud : 1,
الر. كِتَابٌ
اُحْكِمَتْ ءآيَتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيْمٍ خَبِيْرٍ
“inilah
suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapih serta dijelaska secara
terperinci yang diturunkan dari sisi
Allah yang Mahabijaksana dan Mahaagung.”
D. Periodisasi Turunnya
Al-Quran
1.
Periodisasi
turunnya Al-Quran berdasarkan kronologis waktu
Al-Quran
diturunkan berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, yaitu mulai
malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran nabi .
Seiring dengan terjadinya berbagai
peristiwa termasuk peristiwa hijrahnya nabi dari Makah ke Madinah maka
penurunan wahyu pun mengalami periodisasi menurut waktu kapan ayat Al-quran itu
diturunkan. ayat yang diturunkan sebelum hijrah memiliki ciri-ciri tertentu
begitu juga ayat yang diturunkan sesudah hijrah. Adapun periodisasi diturunkannya
Al-Quran kepada Nabi Muhammad adalah sebagai berikut :
a.
Sebelum
hijrah (Periode Makkah)
Periode ini dimulai
sejak diturunkannya wahyu pertama di gua hira sampai peristiwa hijrah nabi, Surat
yang diturunkan sebelum hijrah masyhur dengan sebutan surat makiyyah. Surat
makiyyah adalah surat yang diturunkan sebelum hijrah walaupun bukan diturunkan
di makkah.
‘Utsman bin said
Ad-Darami mengeluarkan keterangan dengan sanad sampai kepada Yahya bin
Salam,”Surat yang diturunkan di Makkah dan yang diturunkan di jalan menuju
Madinah sebelum Nabi Muhammad Saw sampai ke Madinah maka termasuk Makki, adapun
surat yang dturunkan kepada nabi setelah sampai di Madinah termasuk Madani”.
Surat yang turun pada
periode ini berisi tentang ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada
Allah Swt, penetapan risalah kenabian, penetapan hari kebangkitan dan
pembalasan, uraian tentang kiamat dan perihalnya, neraka dan siksanya, surga
dan kenikmatannya, ayat ayat kauniyah dan mendebat orang musyrik dengan
dalil-dalil rasional.
Surat makiyyah juga
memuat tentang fondasi-fondasi umum dalam pembentukan hukum syara dan keutamaan
akhlak yang harus dimiliki oleh anggota masyarakat, celaan terhadap perbuatan
orang-orang musyrik yang tercela seperti memakan harta anak yatim secara zalim
dan sebagainya.
Biasanya surat yang
diturunkan pada periode sebelum hijrah banyak mengandung kata-kata sumpah dan
dan ayat atau suratnya pendek dengan nada perkataan yang agak keras.
Pada masa sebelum
hijrah ini, Al-Quran turun dalam tiga periode menurut Noldeke :
1)
Periode
makkah 1
Surat yang turun pada periode ini adalah :
Surat Al-‘Alaq [96], Surat Al-Mudatsir[74],Surat Al-Lahab
[111], Surat Al-Kautsar [108], Surat Al-Humazah [104], Surat Al-Maun [107],
Surat At-Takwir [102], Surat Al-Fil [105], Surat Al-Lail [92], Surat Al-Balad
[90], Surat Al-Insyirah [94], Surat Ad-Duha [94], Surat Al-Qodar [97], Surat
Ath-Thariq [86], Surat Asy-Syams [91], Surat Abasa [80], Surat Al-Qalam [68],
Surat Al-A’la [87], Surat Ath-Thin [95], Surat Al-‘Ashr [103], Surat Al-Buruj
[85], Surat Al-Muzammil [73], Surat Al-Qari’ah [101], Surat Al-Zalzalah [99],
Surat Al-Infithor [82], Surat At-Takwir [81], Surat An-Najm [53], Surat
Al-Insyiqaq [84], Surat Al-‘Adiyat [100], Surat An-Naziat [79], Surat
Al-Mursalat [77], Surat An-Naba [78], Surat Al-Ghosiyah [88], Surat Al-Fajr
[89], Surat Al-Qiyamah [75], Surat Al-Muthoffifin [83], Surat Al-Haqqah [69],
Surat Adz-Dzariat [51], Surat Ath-Thur [52], Surat Al-Waqi’ah [56], Surat
Al-Maarij [70], Surat Ar-Rahman [55], Surat Al-Ikhlas [112], Surat Al-Kafirun
[109], Surat Al-Falaq [113], Surat An-Nas [114], Surat Al-Fatihah [1].
2)
Periode
Makkah II
Surat Yang Turun Pada Periode Ini Adalah :
Surat Al-Qamar [54], Surat Ash-Shaffat [37], Surat
Nuh [71], Surat Al-Insan [76], Surat Ad-Dukhon [44], Surat Qaf [50], Surat
Thoha [20], Surat Asy-Syuro [26], Surat Al-Hijr [15], Surat Maryam [19], Surat
Shod [38], Surat Yasin [36], Surat Az-Zukhruf [43], Surat Al-Jin [72], Surat
Al- Mulk [67], Surat Al-Mu’minun [23], Surat Al-Anbiya [21], Surat Al-Furqan
[25], Surat Al-Isra [17], Surat An-Naml [27], Surat Al-Kahfi [18].
3)
Periode
Makkah III
Surat Yang Turun Pada Periode Ini Adalah :
Surat As-Sajdah [32], Surat Al-Fushilat [41], Surat
Al-Jatsiyah [45], Surat An-Nahl [16], Surat Ar-Rum [30], Surat Hud [11], Surat
Ibrahim [14], Surta Yusuf [12], Surat Al-Mu’min [40], Surat Al-Qashshosh [28],
Surat Az-Zumar [39], Surat Al-Ankabut [29], Surat Luqman [31], Surat Asy-Syura
[42], Surat Yunus [10], Surat Saba [34], Surat Father [35], Surat Al-A’raf [7],
Surat Al-Ahqaf [46], Surat Al-An’am [6], Surat Ar-Ra’d [13].
b.
Sesudah
Hijrah (Periode Madinah )
Periode ini dimulai
pada saat nabi sampai di Madinah hingga surat yang terakhir diturunkan. Surat
yang turun pada periode ini biasa disebut dengan surat madaniyyah. Surat
madaniyyah adalah surat yang diturunkan setelah nabi hijrah walaupun tidak
diturunkan dimadinah.
Surat yang diturunkan
pada periode ini memiliki ciri-ciri yang spesifik seperti menjelaskan
permasalahan ibadah, muamalah, hudud, rumah tangga, warisan, keutamaan
berjihad, kehidupan social, aturan-aturan pemerintah menangani perdamaian dan
peperangan serta persoalan-persoalan pembentukan hokum syara’.
Ciri yang lain adalah
mengkhitabi ahli kitb dan mengajaknya masuk islam, menguraikan perbuatan mereka
yang menyimpangkan Kitab Allah dan menjauhi kebenaran serta perselisihan
setelah datangnya kebenaran. Mengungkapkan langkah-langkah orang yang munafik.
Adapun surat-surat yang
diturunkan pada periode ini adalah :
Surat Al-Baqarah [2],
Surat Al-Bayyinah [98], Surat At-Taghobun [64], Surat Al-Jumu’ah [62], Surat
Al-Anfal [8], Surat Muhammad [47], Surat Ali Imron [3], Surat Ash-Shaf [61],
Surat Al-Hadid [57], Surat An-Nisa [4], Surat Ath-Thalaq [65], Surat Al-Hasyr
[59], Surat Al-Ahzab [33], Surat Al-Munafiquun [63], Surat An-Nur [24], Surat
Al-Mujadalah [58], Surat Al-Hajj [22], Surat Al-Fath [48], Surat At-Tahrim
[66], Surat Al-Mumtahanah [60], Surat An-Nashr [110], Surat Al-Hujurat [49],
Surat Yunus [10], Surat Al-Maidah [5].
Titik pembabakan
penanggalan keempat periode diatas adalah masa nabi hijrah ke Abesina (+/- 615
M), waktu kembalinya nabi dari thaif (+/- 620 M), dan peristiwa hijrah ke
Madinah (+/- 622 M).
Jadi pada intinya,
Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur melalui
empat periode; Periode Makkah I, Periode Makkah II, Periode Makkah III dan
Periode Madinah.
2.
Yang
Pertama Dan Yang Terakhir Diturunkan dari Al-Quran
Para
ulama berbeda pendapat tentang yang pertama kali diturunkan dan yang terakhir
diturunkan dari Al-Quran.
a.
Yang
Pertama Diturunkan
Pendapat Pertama, pendapat yang paling shohih tentang yang pertama
diturunkan adalah surat Al-‘Alaq ayat 1-5 pada malam 17 Ramadhan tahun 41 dari
kelahiran nabi. Imam Bukhori dan Muslim dan ulama yang lainnya telah
meriwayatkan dari ‘aisyah :
“ Sesungguhnya apa yang
mula-mula terjada pada Rasulullah adalah mimpi yang benar diwaktu tidur. Dia
melihat dalam mimpinya sesuatu yang datang bagaikan terangnya pagi. Kemudian
dia suka menyendiri. Dia pergi ke gua hira untuk ibadah beberapa malam. Untuk
itu dia membawa bekal. Kemudian ia pulang kepada Khodijah maka Khodijahpun
memberikan bekal sebagaimana yang terdahulu. Di gua hira ia dikejutkan dengan
sebuah kebenaran. Seorang malaikat dating kepadanya dan mengatakan, “Bacalah
!”, rasulullah menceritakan, maka akupun menjawab, “Aku tidak pandai membaca”.
Malaikat itu kemudian memeluku sehingga aku merasa payah. Lalu aku dilepaskan dan
dia berkata lagi, “Bacalah !”. maka akupun menjawab, “Aku tidak pandai
membaca”. Lalu dia merangkulku sampai aku merasa kepayahan. Kemudian dia
lepaskan lagi dan dia berkata, “Bacalah !”. aku menjawab, “Aku tidak bias
membaca “. Maka dia merangkulku yang ketiga kalinya sehingga aku kepayahan.
Kemudian dia berkata, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang
menciptakan….sampai dengan ..apa yang tidak diketahui”. (Hadits)
Pendapat Kedua, yang pertama diturunkan adalah surat
al-Muddatstsir, pendapat ini berdasarkan riwayat dari Asy-Syaikhon dari abi
Salamah bin Abdul Rahman yang telah bertanya kepada jabir bin Abdullah mengenai
yang pertama diturunkan dari Al-Quran. Dia menjawab bahwa yang pertama
diturunkan adalah Al-Muddatstsir. Lalu abi salamah bertanya kembali, “apakah
iqra ?”. kemudian Jabir membacakan sebuah hadits, “ketika Aku berjalan, aku
mendengar suara dari langit. Lalu kuangkat kepalaku, tiba-tiba malaikat yang
pernah mendatangiku di gua Hira duduk diatas kursi dianatara langit dan bumi.
Aku merasa ketakutan sekali, kemudian aku pulang dan berkata,’selimuti aku,
selimuti aku’, lalu Allah menurunkan “Wahai orang yang berselimut, bangkitlah
dan berikanlah peringatan”.
Jawaban atas pendapat kedua ini :
1.
Surat
al-mudatsir adalah surat yang pertama diturunkan secara lengkap, surat
al-mudatsir turun secara sempurna sebelum surat al-‘alaq turun secara sempurna.
2.
Adapun
yang dimaksud jabir adalah yang pertama diturunkan setelah terhentinya wahyu
dari wahyu yang diturunkan pertama kali yakni surat al-‘alaq.
3.
Adapun
surat al-mudatsir adalah surat yang pertama kali diturunkan tentang perintah
berdakwah. Sebagian ulama mengibaratkan bahwa: yang pertama diturunkan untuk
kenabian adalah (Iqra Bismirabbika) dan yang pertama kali diturunkan untuk kerasulan
adalah (yaa ayyuhal muddatstsir).
Pendapat Ketiga, yang pertama diturunkan adalah surat Al-Fatihah
Berdasarkan hadits dari Abu ishaq dari Maisarah. Namun menurut qadi Abu Bakar
dalam kitabnya Al-Intishar, hadits tersebut adalah hadits munqathi’.
Pendapat Keempat, adapun yang pertama diturunkan adalah “Bismillah
Ar-Rahman Ar-Rahim”.pendapat ini berdasarkan keterangan yang dikeluarkan oleh
ibnu Jarir dan lainnya dari jalan Adh-Dhahaki dari ibnu Abbas : “sesuatu yang
pertama yang diturunkan jibril kepada nabi adalah : “Wahai Muhammad, mintalah
perlindungan dan katakanlah Bismillahirrahmanirrahim”.
b.
Yang
Terakhir Diturunkan.
Para ulama berbeda
pendapat tentang surat yang terakhir diturunkan. Adapun pendapat-pendapat itu
adalah :
1.
Dikatakan
bahwa yang terakhir diturunkan adalah ayat yang berkenaan dengan riba, sebagaimana
yang dikeluarkan oleh Imam Bukhori dari Ibnu Abbas, “Yang terakhir diturunkan
adalah ayat yang berkenaan dengan riba”.adapun yang dimaksud ayat riba adalah
surat Al-Baqarah ayat 268.
2.
Dikatakan
bahwa yang terakhir diturunkan dari Al-Quran adalah surat Al-Baqarah ayat 281
sebagaimana yang dikeluarkan oleh Imam Nasai dari Ibnu Abbas dan Said bin
Jubair.
3.
Said
bin Musayyab meriwayatkan bahwa yang terakhir diturunkan adalah ayat yang berkenaan
dengan hutang yaitu surat Al-Baqarah ayat 282.
Adapun tiga riwayat
diatas dapat disatukan karena tiga ayat diatas diturunkan berbarengan sebagaimana urutan susunannya didalam mushaf
al-qur’an, yakni ayat riba, kemudian ayat “wattaquu yauma”, kemudian ayat
tentang hutang, karena ayat ayat tersebut berada dalam satu kisah. Setiap
perawi mengatakan bahwa sebagian dari yang diturunkan itu sebagai yang terakhir
kali dan itu memang benar, dengan demikian maka ketiga ayat tersebut tidak
bertentangan.
4.
Dikatakan
bahwa yang terakhir diturunkan adalah ayat Kalalah yaitu surat An-Nisa 176
sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Asy-Syaikhoni dari al-Barra bin azaab.
5.
Dikatakan
juga bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah at-taubah ayat 128-129 sampai
akhir surat. sesuai dengan yang terdapat dalam al-mustadrak dari Ubai bin Kaab.
Mungkin yang dimaksud
adalah ayat yang terakhir dari surat at-taubah. Imam Muslim meriwayatkan dari
Ibnu Abbas , hadits ini memberitahukan bahwa surat ini adalah surat yang
terakhir kali diturunkan karena ini mengisyaratkan wafatnya nabi sebagaimana
yang difahami oleh para sahabat. Atau mungkin surat ini adalah surat yang
terakhir diturunkan.
6.
Dikatakan
bahwa yang diturunkan terakhir kali adalah Surat Al-Maidah ayat 3, sesuai
dengan yang diriwayatkan oleh tirmidzi dan Al-Hakim dari ‘Aisyah. Adapun syaikh
Al-Qaththan berpendapat bahwa surat al-maidah adalah surat yang terakhir
diturunkan berkenaan dengan hukum halal dan haram.
7.
Ibnu
mardawih meriwayatkan dari jalan mujahid dari ummu Salamah bahwa yang terakhir
diturunkan adalah surat ali Imran ayat 195.
8.
Imam
Bukhori meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa yang terakhir diturunkan adalah surat
An-Nisa ayat 93. Adapun ayat ini adalah ayat terakhir yang diturunkan yang
berkenaan dengan hukum membunuh orang mumin secara sengaja.
9. Ada yang berpendapat,
ibnu Abbas berkata bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah surat An-Nashr.
Menurut
Al-Qadi Abu Bakar Al-Baqalani dalam Al-Intishar, bahwa semua pendapat mengenai
yang terakhir diturunkan sama sekali tidak disandarkan kepada nabi, boleh jadi
semua pendapat itu diucapkan karena ijtihad atau dugaan saja. Mungkin masing
masing memberitahukan tentang apa yang terakhir kali didengarnya dari nabi saat
beliau wafat maupun saat nabi mengalami sakit, dan masih banyak kemungkinan
kemungkinan yang lainnya.
Mengenai
surat Al-Maidah ayat 3. Imam As-Suyuthi mengatakan bahwa ayat itu diturunkan di
‘Arafah pada tahun Haji Wada’. Pada lahirnya, ayat ini menunjukan penyempurnaan
terhadap seluruh kewajiban dan hukum sebelumnya. As-sudyi menjelaskan bahwa setelah
al-maidah ayat 3, tidak ada lagi ayat yang turun tentang halal dan haram .
Oleh
karena itu para ulama menyatakan bahwa ayat ini diisyaratkan sebagai keterangan
kesempurnaannya agama Islam. Allah telah menempatkan umat muslim pada suatu
tempat atau negri yang suci dimana tidak ada orang musyrik satu orang pun serta
menghajikan mereka di rumah suci tanpa disertai oleh orang musyrik seorang pun,
padahal sebelumnya mereka berhaji bersama orang musyrik, maka itu adalah nikmat
Allah yang telah Allah cukupkan kepada mereka. Hal ini senada dengan apa yang
telah disebutkan Imam Nawawi dalam kitab tafsirnya “Maroh Labid Tafsir
An-Nawawi” yang masyhur dengan nama
Tafsir Munir.
Adapun
pendapat yang menjadi pegangan mengenai yang diturunkan terakhir kali adalah
sebagaimana yang terdapat dalam kitab at-tibyan karya Imam Ash-Shabuni. Didalam
kitab itu dijelaskan bahwa yang diturunkan terakhir kali adalah surat
Al-Baqarah ayat 281. Karena ayat tersebut diturunkan Sembilan hari sebelum
Rasul wafat dimana rasul wafat pada hari senin, 3 Rabiul Awwal. Mengenai surat
Al-Maidah ayat 3, ayat tersebut diturunkan pada saat haji wada di padang
arafah. Maka ayat tersebut bukanlah ayat yang terakhir diturunkan karena setelahnya
masih turun beberapa ayat.
E. Turunnya Al-Quran Dengan Tujuh Huruf
Orang arab mempunyai
dialek yang bermacam-macam. Hal ini karena selain mereka memperoleh dialek dari
pendahulunya, mereka juga mendapatkan dialek dari pengaruh Negara tetanggannya.
Namun dari sekian banyak dialek dari bangsa Arab, ada satu dialek yang
dijadikan sebagai bahasa pemersatu, dialek tersebut adalah dialeknya suku
Quraisy.
Dialek atau logat suku
Quraisy dijadikan bahasa persatuan dan bahasa resmi yang digunakan bangsa arab.
Hal ini dikarenakan tugas suku Quraisy untuk menjaga kabah, menjamu para Jemaah
haji, memakmurkan masjid al-haram dan menguasai perdagangan, sehingga bahasa
mereka dijadikan bahasa yang paling unggul diantara bahasa bahasa dari berbagai
suku bangsa arab lainnya.
Dengan demikian
wajarlah Al-Quran diturunkan dalam lisan atau logat Quraisy untuk mempersatukan
bangsa arab dan agar tidak ada yang bisa menandingi keindahan gaya bahasa Quran.
Allah berfirman dalam
surat Yusuf ayat 1-2 : “ Ini adalah ayat-ayat kitab (Al-Quran) yang nyata dari
Allah. Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa arab
agar kamu memahaminya.”
1.
Dalil
mengenai diturunkannya Quran dalam tujuh huruf
Hadits-hadits mengenai
diturunkannya Al-Quran dalam tujuh huruf sangatlah banyak. Menurut Imam
As-Suyuthi bahwa hadits hadits ini diriwayatkan dari dua puluh sahabat. Maka
Abu Ubaid Al-Qasim menetapkan kemutawatiran Hadits-hadits ini. Adapun
dalil-dalil mengenai diturunkannya Al-Quran dengan tujuh huruf adalah :
·
Ibnu
Abbas berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda : “ Jibril membacakan Quran
kepadaku dengan satu huruf. Kemudian aku berulang kali mendesak dan meminta
agar huruf itu ditambah dan ia pun menambahnya kepadaku sampai dengan tujuh
huruf.”
·
Imam
Muslim meriwayatkan dari Ubay bin Kaab: “ketika nabi berada di dekat parit bani
Gafar, ia didatangi jibril seraya mengatakan : ‘Allah memerintahkanmu agar
membacakan Al-Quran kepada umatmu dengan satu huruf.’ Ia menjawab : ‘Aku
memohon kepada Allah ampunan dan maghfirah-Nya karena umatku tidak dapat
melaksanakan perintah itu.’ Kemudian jibril datang lagi untuk yang kedua
kalinya dan berkata : ‘Allah memerintahkanmu agar membacakan Al-Quran kepada
umatmu dengan dua huruf.’ Nabi menjawab : ‘Aku memohon kepada Allah ampunan dan
maghfirah-Nya karena umatku tidak dapat melaksanakannya.’ JIbril datang untuk
yang ketiga kalinya, lalu mengatakan : ‘Allah memerintahkanmu agar membacakan
Al-Quran kepada umatmu dengan tiga huruf.’ Nabi menjawab : ‘Aku memohon kepada
Allah ampunan dan maghfirah-Nya karena umatku tidak dapat melaksanakannya.’
Kenudian Jibril datang untuk yang keempat kalinya seraya berkata : Allah
memerintahkanmu agar membacakan Al-Quran kepada umatmu dengan tujuh huruf,
dengan huruf mana saja mereka membaca, mereka tetap benar.”
·
Ketika
terjadi peselisihan antara Umar bin Khatab dan Hisyam bin Hakim karena umar
mendengar hisyam membaca surat Al-Furqan berbeda dengan apa yang telah didengar
Umar dari Rasulullah, maka Rasulullah bersabda : “ Sesungguhnya Al-Quran
diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu
diantaranya.”
2.
Pengertian
Tujuh Huruf
Tentang yang dimaksud tujuh
huruf atau Sab’atu Ahrufin dalam
hadits hadits diatas, dikalangan para ulama terdapat beberapa pendapat. Sebelum
pembahasan mengenai apa yang dimaksud dengan tujuh huruf, akan dikupas terlebih
dahulu pengertian tujuh huruf dalam segi bahasanya.
Al-Ahruf adalah jama
dari Harf yang mempunyai banyak makna. Menurut salah
seorang pengarang kamus, Harf berarti
ujungnya atau tepinya. Harf gunung berarti puncaknya gunung.
Pengertian huruf ialah
salah satu huruf hijaiyah. Seseorang mengabdi kepada Allah secara harf berarti
dia hanya beribadah di satu sisi saja, missalnya seseorang hanya beribadah
kepada Allah hanya ketika senang atau musibah menimpa dirinnya. Dengan
demikian, “wa nuzila al-quran ‘ala sab’ati ahruufin” bukan berarti satu kata
dalam Al-Quran mempunyai tujuh makna melainkan satu makna yang ada pada satu
kata didalam Quran memiliki enam kata lain yang maknanya sama.
Maka dari itu yang
dimaksud dengan harf dalam sab’atu ahrufin adalah “segi” atau “wajah”.
Maksudnya suatu kata dalam Al-Quran boleh dibaca dengan wajah yang dikehendaki
oleh si pembaca sebagai ganti dari pemilik Al-Quran untuk lebih memudahkan
kepada pembaca Quran sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3.
Perbedaan
Ulama Mengenai Pengertian Tujuh Huruf
Para ulama berbeda pendapat mengenai apa yang
dimaksud dengan tujuh huruf, menurut syaikh Manna Al-Qathan, beberapa diantara
pendapat yang mendekati kebenaran adalah :
Pertama, yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa dari
bahasa-bahasa arab mengenai suatu makna; jika bahasa mereka berbeda dalam
mengungkapkan suatu makna, maka Quran pun diturunkan sejumlah lafadz yang
sesuai dengan ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu itu dan apabila
tidak terdapat perbedaan maka Quran
hanya diturunkan dalam satu lafadz saja.
Dikatakan bahwa ketujuh bahasa tersebut adalah
bahasa Quraisy, Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Yaman. ada pula yang
mengatakan Quraisy, Huzail, Tamim, Azad, Rabiah, Hawazin dan Sa’d bin Bakr.
Tujuh huruf adalah
tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab dalam mengungkapkan satu makna yang
sama. Misalnya, Aqbil, Ta’ali, halumma, ‘ajal dan asro’. Lafaz lafaz tersebut
mengungkapkan satu makna yang sama yakni menghadap. Pendapat ini dipilih oleh
sfyan bin uyainah, Ibnu Jarir ibnu Wahab dan lainnya.
Dalil bagi pendapat ini
adalah :
“ Jibril mengatakan :
‘wahai Muhammad bacalah Quran dengan satu huruf.’ Lalu mikail mengatakan, ‘Tambahkanlah.’
Jibril berkata lagi, ‘dengan dua huruf.’ Jibril menambahkannya hingga mencapai
enam atau tujuh huruf. Lalu ia berkata, ‘semua
itu obat penawar yang memadai, selama ayat adzab tidak tertutup dengan
ayat rahmat dan ayat rahmat tidak ditutup dengan ayat adzab. Seperti kata-kata
halumma, ta’ala, aqbil, izhab, isra dan ‘ajal.’” (HR Ahmad dan Tabrani)
Kedua, suatu
kaum berkata bahwa yang dimaksud tujuh huruf adalah bahwa ada tujuh macam
bahasa dari bahasa-bahasa arab yang tersebar didalam Quran. Secara keseluruhan.
Al-Quran mencakup tujuh bahasa dengan sebagian besar menggunakan bahasa
Quraisy, adapun bahasa yang lainnya adalah Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah,
Tamim dan Yaman.
Abu Ubaid berkata : “
yang dimaksud bukanlah setiap kata boleh dibaca dengan tujuh bahasa tetapi
tujuh bahasa yang bertebaran dalam Quran. Sebagiannya bahasa Quraisy dan
sebagiannya menggunakan bahasa yang lain. Sebagian bahasa itu lebih beruntung
karena dominan dalam Quran.
Ketiga,
Sebagian para ulama berpendapat bahwa tujuh huruf adalah tujuh wajah, yakni
amr, nahyu, wa’d, wa’id, jadal, qasas dan matsal. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Hakim dan
Baihaki dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Kitab umat terdahulu
diturunakn dari satu pintu dan dengan satu huruf. Sedang Quran diturunkan
melalui tujuh pintu dan tujuh huruf, yaitu zajr (larangan), amr, halal, haram,
mutasyabih dan amtsal.”
Keempat, sebagian
ulama berpendapat bahwa yang dimaksud
tujuh huruf adalah tujuh macam hal yang didalamnya terdapat perbedaan.yaitu :
Ikhtilaful asma (perbedaan kata benda), perbedaan I’rab (harokat akhir),
perbedaan dalam tasrif, perbedaan dalam taqdim dan takhir, perbedaan dalam segi
ibdal, perbedaan karena adanya penambahan atau pengurangan dan perbedaan lahjah
seperti taghliz, tarqiq, fathah, imalah dan lainnya.
Kelima, sebagian
ulama berpendapat bahwa tujuh huruf bukanlah tujuh huruf secara harfiyah yakni
bilangan diantara enam dan delapan, melainkan sebagai lambing kesempurnaan
menurut kebiasaan orang arab. Hal ini mengisyaratkan bahwa Al-Quran dari segi bahasa dan sastra arab sudah
mencapai kesempurnaannya.
Keenam, sebagian ulama berpendapat bahwa tujuh huruf
adalah tujuh qiroat. Para ulama pendukung pendapat ini mengartikan bahwa
ahruf adalah jama dari lafadz huruf yang
artinya adalah tujuh qiraat, yaitu qiraat yang dibawa oleh imam qiraat sab’ah
yakni Imam Nafi, Imam Ibnu Katsir, Imam Ibnu Amir, Imam Abi amr,Imam
Ashim, Imam Hamzah dan Imam Kisai.
4.
Hikmah
Diturunkannya Al-Quran dengan Tujuh Huruf
Allah yang
Mahabijaksana menurunkan Al-Quran dengan bahasa arab. Orang arab mempunyai
dialek yang bermacam-macam. Hal ini karena selain mereka memperoleh dialek dari
pendahulunya, mereka juga mendapatkan dialek dari pengaruh Negara tetanggannya.
Oleh karena itu Allah menurunkan Quran dengan tujuh huruf.
Hikmah dari pada
diturunkannya Quran dalam tujuh adalah :
a)
Memudahkan
bacaan dan hafalan juga pemahaman bagi orang yang ummi, ataupun bagi orang yang
berbeda dialek dan belum terbiasa menghafal syariat.
Ubai berkata : “Rasulullah bertemu dengan Jibril di
Ahjarul Mira’, sebuah tempat di Kuba, lalu berkata : ‘Aku ini diutus kepada umat
yang ummi, diantara mereka ada anak-anak, pembantu, kakek-kakek dan
nenek-nenek’ Maka kata Jibril : ‘Hendaklah mereka membaca quran dengan tujuh
huruf.”
b)
Bukti
kemukjizatan Quran yang dapat dilihat dengan naluri kebahasaan bangsa Arab.
Setiap orang arab dapat mengalunkan huruf-huruf dan kata-katanya sesuai dengan
dialek dan watak dasar bahasa kaumnya masing-masing.
Maka dari itu, mukjizat
Quran bukan pada bahasanya melainkan pada naluri kebahasaan mereka itu sendiri,
sehingga ketika Quran didatangkan oleh Rasulullah sebagai tantangan kepada
bangsa arab untuk membuat hal yang serupa dengan Quran, tidak ada yang sanggup
menandinginya.
c) Bukti kemukjizatan
Quran dalam aspek makna dan hukumnya. Setiap perubahan bentuk lafadz pada
sebagian huruf atau kata dapat menimbulkan wawasan baru dalam penyimpulan
hukum-hukum. Inilah yang menyebabkan Quran tetap relevan untuk setiap masa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar