Waspadailah Jejaring Sosialmu
( kajian kata aslama dalam tafsir surat
al-Baqarah ayat 112 )
بسم الله الرحمن الرحيم
وَقَالُواْ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ
إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰۗ تِلۡكَ أَمَانِيُّهُمۡۗ قُلۡ هَاتُواْ
بُرۡهَٰنَكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ١١١ بَلَىٰۚ مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ
لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ
عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ١١٢
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani)
berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang
beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka
yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu
adalah orang yang benar(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan
diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi
Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati”
di masa ini, siapa yang tidak kenal dengan jejaring
sosial seperti Facebook, tweeter, instagram, BBM dan sebagainya. Dengan jejaring sosial ini, semua orang dapat
berkomunikasi dengan temannya secar mudah. Salah satu fitur yang disediakan
adalah status di Facebook atau Personal Masage di BBM. Mulai menjadi tren
dikalangan penggunanya untuk menuliskan segala sesuatu yang mereka lakukan,
mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, bahkan sampai ibadah yang
dilakukannya pun dijadikan status. Dirasa atau tidak, ternyata hal sepele
seperti ini dapat berpengaruh kepada keislaman kita karena islam adalah agama
yang mengajarkan ketulusan dan keikhlasan dalam beramal, sedangakan mengumbar
amal melalui status mengindikasikan bahwa kita ingin diperhatikan orang lain
dengan amal kita, hal ini termasuk perbuatan riya. Dan riya adalah perbutan
yang dilarang oleh agama dan dapat menggugurkan amal kita.
Untuk penjelasan lebih lanjut. Mari kita simak tafsir
ibnu katsir dari surat Al-Baqarah ayat 112 :
Allah akan memberikan pahala atau balasan, rasa aman dari
ketakukan dan kesedihan kepada orang yang disebut dalam ayat :
مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ
لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِن
Menurut imam ibnu katsir, maksudnya adalah barang siapa
yang mengikhlaskan amalnya hanya untuk Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.
Hal senada dikatakan oleh Abu Al-Aliyah dan Ar-Rabi bin Anas. Menurut mereka,
maksudnya adalah barang siapa yang benar-benar tulus karena Allah.
Masih berkenaan dengan ayat tersebut. Menurut Said bin
Jubair, kalimat .
اسلم وجههadalah yang tulus ikhlas menyerahkan agamanya. Sedangkan محسن
artinya adalah mengikuti rasulullah karena amal yang diterima harus memenuhi
dua syarat, yaitu harus didasari pada keikhlasan hanya karena Allah dan sejalan
dengan syariat Allah. Jika suatu amalan sudah didasarkan pada keikhlasan hanya
karena Allah, tetapi tidak benar dan tidak sesuai dengan syariat, maka amalan
tersebut tidak diterima. Oleh karena itu Rasulullah bersabda :
من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو رد
“ barang siapa mengerjakan suatu
amal yang tidak sejalan dengan perintah kami, maka amal itu tertolak.”
Didalam surat al-furqan ayat 25, dijelaskan bahwa Allah
akan menghadapkan amal dihadapan orang yang berbuat seperti itu. Lalu amal
tersebut ditiup bagaikan debu yang berterbangan.
Adapun amal yang sejalan dengan syariat tetapi tidak
didasari oleh keikhlasan karena Allah, maka amal perbuatan seperti itu juga
ditolak. Demikianlah keadaan orang-orang yang riya dan munafik, sebagaimana
firman Allah ta’ala :
فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٤
ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥
ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ٦
وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ
“Maka kecelakaanlah bagi
orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.
orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.
Oleh karena itu Allah berfirman :
فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ
لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ
رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا ١١٠
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam
beribadat kepada Tuhannya"
Mengenai mengerjakan amal saleh, agar dapat diterima
harus disertai dengan keikhlasan karena Allah taala. sebagaimana firman Allah
dalam surat al-Baqarah ini :
بَلَىٰۚ
مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ
“(Tidak demikian) bahkan
barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan”
Dan mengenai firman Allah :
فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ
رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ١١٢
“maka baginya pahala pada sisi
Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati.
Bahwa dengan amal baik itu, Allah menjamin sampainya pahala
kepada mereka serta memberikan rasa aman dari hal-hal yang mereka khawatirkan.
Mereka tidak merasa khawatir atas apa yang mereka hadapi dan tidak merasa
bersedih atas apa yang ditinggalkan (dosa) dimasa lalu. Menurut Sa’id bin
Jubair, Mereka tidak merasa khawatir ketika berada di akhirat dan mereka tidak
bersedih hati atas datangnya kematian.
Setelah mengkaji tafsir diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap
perbuatan baik harus sesuai dengan syariat-Nya dan didasari dengan keikhlasan dan
ketulusan hanya karena Allah agar dapat diterima. Orang yang beramal tidak
sesuai syariat meskipun dia ikhlas karena Allah, maka amalnya ditolak. Dan
Orang yang berbuat baik sesuai syariat tetapi tidak didasari keikhlasan, maka
amalnya ditolak juga. Hal kedua inilah yang terjadi pada orang yang berbuat
riya.
Pada hari kiamat allah akan menghinakan dan mengecilkan orang yang berbuat
riya di hadapan seluruh makhluk. Sebagaimana hadits nabi :
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ،
عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ أَبِي عُبَيْدَةَ،
فَذَكَرُوا الرِّيَاءَ، فَقَالَ رَجُلٌ يُكْنَى: بِأَبِي يَزِيدَ، سَمِعْتُ عَبْدَ
اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : " مَنْ سَمَّعَ
النَّاسَ بِعَمَلِهِ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ سَامِعَ خَلْقِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ،
فَحَقَّرَهُ وَصَغَّرَهُ "
(رواه احمد)
Riya juga merupakan
perbuatan syirik yang paling kecil. Dan tentu harus kita jauhi. Sebagaimana
hadits nabi Muhammad Saw :
"Sesuatu
yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah syirik paling kecil.
Maka beliau ditanya tentang itu. Beliau berkata: Riya" (HR. Ahmad)
Hadits tersebut disitir oleh syeikh Muhammad
bin Abdul Wahab (dalam kitab Tauhid) tanpa mengulas panjang lebar. Hadits ini
juga diriwayatkan oleh Thabrani, Ibnu Abid Dunya dan Baihaqi di dalam Az
Zahdu.
Maka dari itu, kita harus menjauhi riya. Salah satunya dengan tidak
mengumbar ibadah yang kita lakukan di jejaring sosial walaupun tidak berniat
riya, karena dikhawatirkan hal itu akan mengundanng pujian orang-orang yang
berakibat kita merasa bangga sehingga berujung riya dan bahkan membuat orang lain berburuk sangka kepada
kita.
Dengan berbuat riya berarti kita sudah menyekutukan Allah. Seluruh amal
kebaikan yang seharusnya dikerjakan dengan ikhlas dan tulus hanya karena Allah,
malah dikerjakan agar dilihat oleh orang lain sehingga kita dinilai orang yang
baik. Maka kita telah merubah tujuan utama kita dari Allah menjadi manusia.
Semoga kita tetap mengerjakan amal baik dengan tulus dan ikhlas hanya
karena Allah. Sehingga amal kita sempurna dan mendapat pahala dari Allah, tidak
merasa khawatir, takut dan bersedih.